Thursday, October 26, 2006

maen basket

kriekenpitplein 128, utrecht, 26 oktober 2006.
Heheheh, akhirnya setelah hari kemenangan, muncul ide untuk berbasket ria. Singkat cerita saya dan beberapa teman berkumpul untuk bermain basket. Radja sang pemilik bola, Mia miss febo 2006, Malik (and d’essential), mas Indra, Pilar, dan saya sendiri. Sebuah kombinasi ajaib dalam bermain basket. Dinginnya udara utrecht bukan halangan. Orang-orang bule mungkin agak kaget dengan orang-orang yang mereka kira dari Eskimo ini, maen basket di suhu yang menjelang beku begini, Outdoor pula. Emang modal nekat dan kekangenan yang mendalam dalam berolahraga, mengalahkan semua logika.

Dimulai dengan gambreng yang sempat menyolot perbedaan karena sempat ditentukan bukan dengan telapak tangan, tapi perbedaan takdir tuhan akan warna kulit. Tim pertama terdiri dari, saya, mas indra, dan malik. Kami melawan tim berisi radja, mia, dan pilar. Tiada satupun yang pemain regular. Semua modal semangat dan mengingat ajaran cara bermain olahraga ini saat pelajaran pendidikan jasmani kala SMP dulu. Napas Dji Sam Soe dan sisa-sisa timbunan kolesterol menghiasi pertandingan ini ala ketoprak humor ini. setelah pertandingan skor 10-6, dan 10- 2, tim saya mengalahkan tim radja secara mutlak hehehehehe.

Rencananya ini akan diadakan seminggu sekali, bergantian dengan olahraga lainnya, tennis (malik punya 4 raket), pingpong (radja punya bet ama bola), fitness (saya punya belt dan sarung tangan), bola sepak (orang PhD Syria depan kamar Radja ngajakin), kita manfaatkan sarana olahraga di kriekenpitplein ini secara maksimal. Oh ya terbuka juga untuk bowling dan bilyar, demikian petikan obrolan di sela-sela nafas ngos-ngosan.

Acara dilanjutkan dengan makan-makan sangat sederhana di kamar Radja. Karena kurang persiapan saya cuma keinget beli isotonic drink, next week saya akan siapkan ubi goreng dan singkong goreng di pinggir lapangan. Memang setelah berolahraga paling enak makan tanpa ada secuil pun rasa bersalah.

Latihan di musim gugur, katanya seh buat pas pertandingan antar kota nantinya, tapi itu di summer nanti, heheh palingan abis winter lupa, and udah sibuk dengan thesis. Tapi yah kesehatan itu mahal harganya, dan berlatih untuk kebugaran adalah perlu sebagai perilaku hidup sehat. Itu kata Bang Ade Rai.

Mari ramaikan pertandingan eksibisi berikutnya, ditunggu kehadiran aa’ kiki buat bola cadangan kalo bola utama kempes, ibu dokter Ika, karena dipastikan ketika pertandingan memanas akan ada yang semaput di lapangan, butuh pertolongan pertama untuk dipotret sebelum ditulung. Spesial untuk Detty, jangan lewatkan momen-momen indah yang sungguh paling layak untuk dicela.

What? Basketball, Shot for fun! (and tentatively open for other type of sport)
When? Every Wednesday, 06.00 PM
Where? Kriekenpitplein, UCU building
Why? There are 1001 reasons from health perspective to unhealthy perspective.
wh..? don’t ask just come. And tell everyone else to come.

Saturday, October 21, 2006

Sebuah cerita pendek setelah berbuka puasa







utrecht, 19 september 2006
Tiada terasa sudah 2 bulan lamanya saya berada di negeri, yang sungguh diluar dugaan saya bisa, menetap disini. Sebuah utopia. Tiap hari masih saja bangun dan terbengong-bengong kalau saya ada disini, negeri yang diimpi-impikan sejak di bangku SMA.

Masih saja termangu kalau saya ada diantara bule-bule itu, bersepeda bersama mereka, dilayani oleh kasir bule di supermarket. Makan makanan yang sangat mahal harganya kalau di Jakarta (dan kebalikannya). Belajar lagi, sekolah hukum di universitas dengan fakultas hukum nomor satu di Belanda, nomor 6 di Eropa, dan nomor 40 di dunia. Menerima pendidikan dari profesor-profesor terbaik di bidangnya. Penyajian materi yang sangat menarik yang saya kira Cuma ada di film-film saja, dengan pelbagai penghuni belahan dunia di kiri kanan saya, Enrique asisten senator dari Columbia, Malala aktivis NGO dari Rwanda, Barbara pegawai DOJ united states, Anne Prosecutor dari Kanada, Mollah dosen dari Ethopia, Sofka dari Serbia, dll. Mengakses library hukum super lengkap yang interior nya seperti di dalam kapal startrek dengan bangku super nyaman dan monitor flat screen yang tersambung ke semua database hukum penjuru dunia yang bayarannya super mahal, semuanya gratis.

Hidup bagai esmud kalau di Jakarta. Apartemen super mewah, bagai tinggal di apartemen rasuna, lengkap dengan microwave, dan coffie maker, tv cable 29 inch, akses internet tercepat selama hidup saya, download film ratusan megabyte hanya dalam hitungan detik. Tiap hari mengunyah potato chips dan minum jus segar murni, saya baru sadar makanya orang bule suka nimpuk pake chips, wong murah.

Dan yang hebatnya, semuanya tanpa keluar uang, not every cent. Semua full beasiwa. Hmmm dan tak lama lagi saya akan melihat salju pertama kali dalam hidup saya. Anugrah terindah yang telah lama diimpikan oleh seorang pegawai rendahan di salah satu stasiun televisi lokal ini.

Kemarin kelas kami dibagi menjadi beberapa kelompok, saya satu kelompok dengan 6 gadis belanda, ini tugas kelompok pertama saya, hmmm ada sedikit ketakutan kalau susah nantinya. Kabarnya orang belanda agak reluctant dalam berteman, memang mereka sangat ramah, dan tiada pernah saya temui di belahan belanda ini yang tidak bisa bahasa inggris. Namun setelah itu menarik diri, apartheid berasal dari kata belanda, mereka punya prinsip, kalian boleh berbaur dengan kami, namun kalian tidak bisa menjadi bagian dari kami.

Lalu apa yang terjadi dengan kelompok saya? Semua berjalan lancar dan menarik, dalam berdiskusi di basement kampus keenamnya (tujuh dengan saya) sangat helpfull dan kompak, tugas kami adalah; dalam debate di kelas, kami menjadi tim yang membela sistem hukum Amerika, mereka semua hebat, saya menjadi orang yang membuat opening statement, dan dengan peluru hasil “diving” saya di library, kami punya banyak bahan untuk meredam kelompok lain. Oh ya mereka semua cantik-cantik lho.

Saturday, October 07, 2006

nama saya di web FHUI, almamater saya

BERITA FHUI
22/09/2006

http://www.law.ui.ac.id/berita.php?bid=85

Alumni FHUI Menerima Beasiswa StuNed Untuk Melanjutkan Studi Pasca Sarjana di Negeri Belanda


Sebanyak 7 (tujuh) orang alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) menerima beasiswa Studeren in Nederland (StuNed) dari Pemerintah Kerajaan Belanda untuk melanjutkan studi pascasarjana di Negeri Belanda. Mereka yang menerima beasiswa tersebut antara lain adalah Andy Aron angkatan 1998 ke Rijksuniversiteit Groningen (RuG), Datu Putra Persada angkatan 1997 (RuG), Hesti Setyowati angkatan 1999 ke Rijksuniversiteit Leiden, Immanuel A. Indrawan angkatan 1999 (RuG), Reni Pasaribu angkatan 1998 ke Universiteit Utrecht, Tommy Kusuma angkatan 1998 (RuG), dan Wahyuningrat angkatan 1998 ke Universiteit Utrecht. Mereka adalah bagian dari sebanyak 170 (seratus tujuh puluh) warga Indonesia penerima beasiswa StuNed untuk tahun akademik 2006-2007. Ketujuh alumnus FHUI tersebut telah memulai studi mereka semenjak awal September 2006 ini. Mereka belajar dalam berbagai program studi spesialisasi mulai dari International Law and International Organization, International Human Rights, sampai International Economic and Business Law. Sebelumnya ketujuh alumnus FHUI tersebut bekerja dari berbagai latar belakang profesi yaitu diplomat, pers, tenaga lembaga swadaya masyarakat, peneliti, dan praktisi hukum. Pemberian beasiswa tersebut merupakan konkritisasi dari komitmen Pemerintah Kerajaan Belanda untuk membantu pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Seperti halnya kita ketahui bahwa proses penegakan hukum dan juga pembangunan hukum di Indonesia yang masih lemah hingga sekarang sangat membutuhkan profesional-profesional di bidang hukum yang memiliki komitmen untuk membangun dan memperbaiki hukum di Indonesia. Oleh karena itu diharapkan dari seluruh alumni FHUI yang sudah maupun sedang menuntut ilmu di luar negeri untuk dapat bekerja keras menimba ilmu agar dapat diaplikasikan di Indonesia. Diharapkan agar kesempatan belajar di luar negeri tersebut tidak hanya akan dimanfaatkan secara pribadi oleh setiap penerima beasiswa tetapi juga untuk didedikasikan bagi kemajuan Indonesia. Demikian juga kontribusi untuk almamater FHUI diharakan agar nantinya para penerima beasiswa tersebut bersedia untuk menyumbangkan ilmunya kepada dunia akademik di FHUI baik sebagai dosen maupun kontributor dalam pelatihan, lembaga-lembaga studi dan penelitian, serta pembicara dalam seminar-seminar yang diadakan oleh FHUI. Kiranya seluruh daya dan upaya yang akan dijalani oleh para penerima beasiswa tersebut di luar negeri akan selalu dalam satu semangat yaitu untuk berpartisipasi dalam pencapaian cita-cita kemerdekaan Indonesia demi masyarakat yang adil dan makmur.

(Immanuel A. Indrawan)