Wednesday, January 03, 2007

Love and Marriage

Dua permasalahan yang menjadi fokus utama hidup seseorang. Akan sampai usia seseorang dititik ini, dan percayalah semua problematika akan muncul hingga titik nadir. Saya sampai pada topik ini setelah mendengar dengan tekun pelbagai permasalahan yang dihadapi kawan saya via YM tadi pagi, ada yang pusing nyari jodoh padahal dia sedang dalam jalur cepat ke puncak karir. Ada yang sedang pusing mengakomodir kebutuhan kedua keluarga besar saat mempersiapkan pernikahan. Ada yang makin mampus setelah belahan hatinya yang sudah kebelet mau kawin, eh malah tidak direstui orang tua.

Sebenarnya bagaimana sih kita memandang masalah love and marriage? Untuk menjawab masalah itu, seperti kata narasumber saya dulu, mas Ndang Sutisna, “Turunlah ke masyarakat dan carilah jawabannnya disana.” Saya langsung ambil anduk dan mandi, trus dandan wangi.

Saya mencoba mendatangi sekelompok orang malam ini di salah satu kafe yang menjadi head quarter mereka, Toque-Toque yang terletak di centrum Utrecht pas samping kanal Oudegraf. Sebuah kelompok dimana dalam salah satu blog nya temen saya memanggil mereka, kelompok tujuh student alstublieft. Nama ini diambil dari kata yang mutlak pertama diketahui oleh student yang sampai di negeri ini. Saya pertama tidak percaya, namun pertama kali di antri tiket kereta pas sampai di Schippol, dan lagi-lagi pertama kali menyodorkan strippenkart di Utrecht, nah kata inilah yang akan Anda dengar. Barulah dari situ terpicu untuk mempelajari kata-kata lainnya. Percayalah. Kalau tidak percaya dengarlah apa kata penjual kentang khas Belanda ketika menyodorkan segepok kentang dalam kertas mirip penjual kacang rebus di bogor plus mayonaise, walau anda mengeryitkan dahi pertama kali karena terfokus pada makanan aneh yang nantinya akan anda sukai itu, namun dengarlah apa kata penjual kentang itu, tak lain tiada bukan “Alstublieft.”

Untuk tercipta sebuah kelompok Focus Group Discussion yang memenuhi syarat keilmiahan, kelompok tujuh student alstublieft ini bisa dibilang sangat layak. Tujuh adalah bilangan aneh yang dianggap sexy, karena itu James Bond memilih code nya diakhiri nomor ini. Ganjil juga bukan karena sering voting, mereka lebih suka musyawarah kok. Mereka memang sedikit berkelakuan ganjil.

Dari segi demografi, mereka muncul mewakili kelompok yang telah sampai pada usia yang akan memandang serius kedua topik dalam judul, usia 20-30, segmen yang dituju pendengar radio hard rock FM. Pendapatan mereka mewakili kelompok menengah keatas dan beberapa menengah kebawah. Kebanyakan sih ditengah-tengah dan kadang kebawah banget kalo lagi sering jajan, tergantung lagi sale apa nggak. Pendidikan mereka S1 menjurus S2, S2 menjurus S3, cocok dari sudut pandang keilmuan. Dari jenis pekerjaan, ada yang white collar dan blue collar. Bahkan ada yang white collar namun nyambi blue collar, dan ada yang blue collar karena itu seragam kantornya, kebanyakan warga komuter, dan ada juga warga pedalaman. Dari segi SARA, mayoritas tinggal di pulau jawa dan beberapa tinggal di luar jawa, dan etnis bermarga hingga etnis impor, juga ada yang cuma warisan orang tua saja karena sudah berbaur dengan penduduk asli sejak kecil. Mewakili pemeluk dua agama besar di Indonesia dengan aliran sedikit moderat, klop lah dengan kondisi sosial negara. Dari segi status, 2 sudah menikah, 1 hampir menikah, 1 akan menikah, 3 single available, 1 menikah dan punya simpanan, 1 pernah menikah, dan 1 gagal menikah hehehe.

*Eh kok lebih? Kamu siapa? Pergi kamu!* “numpang Oom...”

Ok malam ini diskusi digelar. Pertanyaan ditanyakan satu-persatu. Nama dan jenis kelamin para responden akan dirahasiakan untuk menghindari tuntutan hukum dikemudian hari layaknya Milgrim Experience di tahun 1967. Oh ya, you are what your pour on your drink. Untuk menguji semboyan itu akan direveal sedikit deskripsi kelakuan khas dan apa yang diminum persona itu.

Responden pertama. Usia 30, belum menikah. Ia meminum kopi regular tanpa cream dengan sedikit sekali gula.

“Bagi gue cinta itu harus dicari, dan gue nggak akan agresif dalam mencarinya, biarkanlah ia akan datang dengan sendirinya. Tentunya ini setelah pengalaman sebelumnya, gue kan datang kesini abis patah hati.”

Kalo marriage?

“Gue cowok seh ya, jadinya usia gak masalah, meski orang tua dan gue udah pengen banget. Gue juga dilongkapin ama adek gue tuh. Tapi belum ada gimana dong?”

Ok makas...

“eh gue boleh numpang iklan nggak? Kali aja ada yang tertarik ama gue, gue bisa dihubungin di...

(maaf disensor, untuk kepentingan yang lebih akademis)

Responden kedua. Usia 31, sudah menikah. Ia meminum cappucino.

“Cinta nggak usah dibikin ribet. Jalanin aja.”

Marriage?

“Itu juga nggak usah dibikin pusing. Gue mah nggak mau ambil pusing, masih banyak kerjaan soale. Busyet. Orang laen aja yang pusing deh.”

Lanjut, responden ketiga. Usia 33, hmm, agak keluar dari TOR. Siapa yang ngundang dia? sudah menikah. Double ekspresso.

“cinta gue satu, buat anak dan istri.”

...

“ama bangsa dan negara juga”

Itu empat dong?

“kalo kawin yah, gue dulu ribet bener deh ngakomodasi kedua keluarga, wah temen-temen juga, temen gue kan banyak. Wah sumpah deh ribet. Gue sih nggak mau kaya gitu yah, tapi gimana dong yah kan buat keluarga. Itu kan pestanya keluarga yah.”

Responden keempat. Usia 26. Belum menikah. “Gue pesen coca cola aja boleh?” tidak merokok tapi minta rokok dan malu-malu pas ditanya.

“Hwah heheh, yah udah punya calon sih. Gue suka ama anak itu udah lama. Terus pas gue tanya eh dia suka juga. Jadian deh kita. Ah cinta itu ajaib.”

Terus?

“Kalo merit, udah rencana. Tapi tunggu saat yang bener dan semuanya bener deh ya. Pas lah udah ama usia gue sekarang. Sesuai schedule”

Responden kelima, usia 30 an, nggak mau reveal nomor buntut. Earl Grey Tea dengan dua gula. Sudah menikah.

“Cinta itu datang sejalan dengan kerinduan gue akan hal itu. Segalanya sangat romantis bagaikan film bollywood. Apalagi dia sangat penyayang, mau nerima gue apa adanya.”

Ahh...

“Ribet seh. Tapi harus itu. Biar nggak repot dikemudia hari. Wah pusing deh keluar banyak tenaga dan biaya deh pokoknya. Tapi sekali lagi, menurut gue harus. Persiapkan semuanya dari awal deh. Dan diatur yah, biar nggak kacau.”

Responden keenam, usia 24. mocca latte.

“No comment ah. I really love him deh...”

Pertanyaan kedua...

“Eh Lo sendiri gimana? Nanya-nanya mulu neh...”

Tapi...

“Udahlah cinta itu kadang butuh kepekaan. Ada disekitar kita namun harus cepat ditangkap, kalo tidak ia bagaikan asap yang keluar dari grill steak, lo dapat steaknya, namun biarpun itu daging tender, namun tanpa aromanya lo pasti merasa kurang kan?”

Whoa! Nice...

Responden ini lalu sibuk haha hihi dengan mocca latte nya.

Responden saya yang terakhir, usia 28 jelang 29, malah pesen Bir Hitam. Langka bener.

“Cinta itu yah, tiada lagi senyum lembut, sendiri berjalan di dalam gelap kemana arah yang kutuju, hanyalah bayangan beku. Indah cinta berakhir duka, mengalun sunyi dibuai mimpi. Punahlah sudah. Menjauh dari angan meragu. Kini kucari celah dahaga di jalanan penuh duri.”

Hmmm kayanya mirip sama lirik lagu Chrisye deh. Mungkin malam ini dia sedang patah hati.

Begitu beragamnya hasil study gue malam ini. Ketika menutup note dan memeriksa tape rekaman di perjalanan pulang, saya menerawang mereka-reka arti cinta bagi saya, selain apa kata Ari Lasso dalam MP3 di kuping. Ah cinta begitu penuh warna. Bagaimana dengan anda?

Monday, January 01, 2007

Fitness nyok!

Sudah berapa lama kamu fitness?

Saya jawab, “sejak 2002, berarti sudah 4 tahun saya melakukan aktivitas ini.”

Selanjutnya, “kok kamu tetap ndut?”

“Hmmm.”

Begini ya, memang benar motivasi perdana saya adalah untuk membuat badan tampil lebih indah, memikat lawan jenis, dan menimbulkan kepercayaan diri yang sangat dalam saat membuka baju di kolam renang.

Tapi sejalan dengan saya makin mengenal olahraga ini, saya menemukan kepuasan lain yang sangat berguna untuk diri saya yang nyaris tidak pernah berolahraga saat 4 tahun kuliah di depok. Saat kuliah bagi saya saat menimba intelektualitas sebanyak mungkin dan ditunjang penuh dengan kopi, rokok, dan makanan kaya kholesterol. Masukkan juga faktor begadang dan gaya hidup tidak sehat lainnya. Rambut berketombe saat mencoba gondrong, naek motor tengah malam tanpa pelindung dada dan penutup hidung, dan sebagainya.

Saya pertama tahu adanya olahraga jenis ini dari kawan SMU saya yang memulainya di bangku kelas 2 SMU, dari kerempeng kurus, ia bisa buka baju kalo olahraga, dan badannya memang keren. (kemudian saya bertemu lagi di tempat fitness pertama saya, ia memang sempat jadi juara nasional, tapi ada sedikt penurunan daya tangkap otak, so guys jangan coba-coba mulai fitness saat remaja tanggung. Nggak baik untuk pertumbuhan otak kamu, ini juga olahraga individual, olahraga permaenan aja yang komunal dan bisa nambah temen, seperti nyolong mangga, kan bisa ketangkasan manjat, sport jantung, dan terakhir sprint. So olahraga yang laen aja!)

Ok gym pertama.

Konotasi saya akan gym membawa saya kepada tempat berkumpulnya para homo, seperti di gym bawah pasar festival kuningan di era 90 an. Kini mereka mungkin lebih menyebar di berbagai gym, mereka bisa gratis jelalatan melihat pria-pria.

Karena alasan menghindari hal tersebut itu saya memilih Central Gym Hero pondok bambu, Jakarta timur sebagai gym pertama saya. Terkenal sebagai tempat atlet PON berlatih. Cewek-ceweknya juga asyik dilihat kalau sedang latihan aerobik, menambah semangat. Ruangannya lebar meskipun alatnya kuno semua, ini mendukung kenapa harganya sangat sedemikian murah, 80.000 rupiah sebulan. Instrukturnya berpengalaman, walau pendidikannya rata-rata SD sampai SMP. Ajaran mereka lebih pada praktek empiris, jadi banyak sekali mitos saya temukan disini, jangan makan nasi lah (cobalah sebulan, dijamin anda kurus tapi sering marah-marah J) abis latihan ini terus begini begitu. Hmm memang tanpa dukungan teori yang jelas, tapi saya tetap menimba ilmu disini. Keuntungan lain banyak figur atlet top binaraga berkeliaran disini, sesekali Didin Bagito latihan disini, beberapa model L Men juga muncul. Tapi yang paling sering preman tukang pukul dan security buat event concert. Yah, yang penting semuanya straight sex orientation dan best view cewek-ceweknya.

Gym kedua

Saat gym saya direnov saya mengungsi ke gym yang terasosiasi dengan Ade Rai atlet terkenal itu. Gym itu baru buka, pemiliknya salah satu mantan atlet nasional yang pindah profesi jadi sales Astra, dia piawai dalam merayu, alhasil saya jadi member disitu. Alatnya relatif baru meski kurang lengkap dan tidak sebanyak Central Gym. Kelebihan Gym Team Rai depan apotek pondok bambu ini (Team Rai berarti gym milik teman-teman inner circle ade rai, sedangkan Klub Ade Rai itu franchise yang berarti bisnis semata, karena itu fasilitas dan alatnya tidak selengkap Klub Ade Rai) adalah instrukturnya yang ramah dan tidak pelit ilmu. Ini dijamin oleh pemiliknya yang bilang, “Kalo ada yang nolak ngajarin bilang ke gue, ntar gue pecat!”

dia lalu memasang no HP nya di tembok dekat bench press. Memang terbukti. Saya mendapat menu latihan dan menu tips diet yang nggak nyusahin untuk saya yang masih sangat malas untuk disiplin diet ini. Disini juga saya berkenalan dengan banyak figur beken yang gabung latihan disini, salah satunya adalah mas Dian Bagol, juara nasional dan juara Asia kelas 85 kg. asyik rasanya berdiskusi dengan beliau disela-sela latihan.

Keenakan abis fitness

Inilah yang memicu saya tetep aja rajin datang ke gym, maksimal 3 kali seminggu, dan paling malesnya 2 minggu sekali. Ada beberapa keuntungan berfitness ria:

Yang utama, abis kelar nge-gym itu makan rasanya tanpa rasa bersalah sama sekali. Makanlah sebakul dua bakul, enak rasanya. Seperti selesai berenang.

Yang kedua, badan bugar dan jarang sakit. Memang kaya petuah di brosur-brosur hidup sehat. Tapi beneran loh. Saya memang tidak mengkonsumsi alkohol dan obat terlarang, namun saya pecinta kafein, soda, dan nikotin. Kombinasi yang mematikan. Tambahkan seporsi sop kaki kambing sebulan sekali. Abis nge-gym dada rasanya segar. Beneran nggak gampang sakit. Stamina jadi OK banget. Cocok buat saya yang ke kantor di jam-jam orang seharusnya tidur.

Yang lainnya? Hmmm tambah pede meski perut masih buncit dan berharap lemak-lemak kian mengikis dan ketika timbunan itu hilang ototmu akan muncul. Yang kerasa banget yah tambah kuat, udah pede buat bantu cewek cakep ngangkat beras, dan ikutan gotong tenda pas tujuhbelasan di RT.

Teman-teman yang udah pada jadi

Dulu saya fitness sendiri, terus ada partnernya, namanya Iyut, temen dari kecil, dia baru 2 tahun ikutan fitness, dulunya gara-gara asam urat menyerang penggemar sate dan gule kambing ini. Tapi lain dengan saya, dia rajin diet ketat dan hidup sehat, menghindari makan sembarangan kayak saya. Selalu milih ayam atau ikan (white meat) kalo diajak makan. Makanya dia udah six pack dan berbentuk atletis, dia tidak merokok dan minum kopi, ditambah rutin latihan sepakbola.

Terus ada anak kecil satu, namanya david, dia dulu gendut dan kuper, nggak pede pula. Pas dia kuliah semester satu di trisakti, dia saya buat terpikat dengan olahraga fitness. Dia pun bergabung ke gym Klab Ade Rai Trisakti. Dia rajin mengkonsumsi vitamin dan suplemen buat nutrisi otot. Dalam waktu setahun, badan dia sudah padat berisi otot, dadanya lebih bidang dan bisepnya lebih berisi, sayang wajahnya saja yang kurang mendukung.

Hehehe, kadang kalo latihan bareng mereka, cuma saya yang nggak kuat ngangkat beban, memang beda dengan orang yang benar-benar tekun.

Gym sekarang

Di negeri Belanda ini, saya menemukan sebuah gym yang cocok dengan kocek pelajar seperti saya ini. Namanya Olympos, tarifnya 40 euro per tiga bulan. Lumayan murah untuk ukuran gym super besar dan alat setara fitness first di Jakarta. Namun kekurangannya, saya yang biasa pake yang manual, agak susah adjust dengan alat-alat yang otomatic. Namun kini saya kadang bisa melatih cardio saya sebelum sampai ke gym, secara perjalanan ke gym harus ditempuh dengan 40 menit mengayuh sepeda.

Tips nutrisi pribadi

Berikut tips untuk diet sederhana yang saya dapat dari pergaulan di gym dan membolak-balik majalah Adiraga dan Men’s Health. Ditambah sedikit kombinasi akan apa yang kiranya cocok buat saya pribadi, mungkin aja cocok buat anda.

Buah: pisang! Inilah makanan si Tarzan, liat Tarzan badannya jadi kan? Disemua film baik itu versi kartun hingga yang Tarzan X oleh Rocco Siffredi, semuanya badannya bagus dan atletis. Memang, dan semua atlet nasional juga makan buah pisang. Paling sehat, mengandung banyak serat, vitamin, dan terutama relatif murah terjangkau.

Makanan utama: sedikit nasi dengan ayam bakar! Dari hasil obrolan dengan mas Dian Bagol atlet internasional, rata-rata ini makanan favorit. Kadang mereka makan nasi setengah centong doang tapi ayam bakarnya 5 potong. Dulu saya dan Iyut suka makan ayam bakar pinggir jalan, lebih sehat kalo bakarnya tanpa mentega. Makanan lainnya yang dianjurkan adalah sop ikan atau direbus.

Yang ini agak mahal, dulu susah bener ngelakuinnya di Jakarta, tapi di Belanda mumpung murah: gantilah makan nasi dengan kentang, gantilah makan indomie dengan pasta. Makanlah roti gandum (wheat bread) yang coklat ketimbang roti tawar biasa. Saya dulu setahun penuh makan roti gandum kalo kelaparan tangah malam. Kandungan seratnya lebih banyak, dan lebih mengenyangkan. Dan sedikit efek timbunan, ketahuilah kalau yang membikin kita gemuk itu karbohidrat bukan lemak. Ade Rai kalo makan steak, steaknya 2 gelondongan plus sayuran di pinggir itu (kacang polong, wortel, jagung) tanpa kentang. Makanan yang dibakar lebih baik daripada yang digoreng.

Nutrisi tambahan buat otot, tentu saja protein. Otot itu makanannya adalah protein. Lagian kalo kamu capek abis ngangkat beban berat, nanti otot kamu akan ngambil sebagian besar suplai protein tubuh, which is juga dipake otak, makanya jangan sampai kamu kekurangan protein, kan kamu juga harus punya otak encer. Masak badan jadi tapi otak melompong.

Supaya tidak kekurangan protein, setelah latihan, konsumsilah suplemen tambahan untuk protein otot dan otak kamu. Susu kedelai adalah yang paling mujarab. Makan putih telur tanpa kuning telur. Kacang bakar. Selai kacang. Dan tentu saja, makanan kebanggaan nasional, tempe tahu.

Tips latihan pribadi

Ok, sampailah kita di pertanyaan, gimana seh cara saya latihan. Berikut saya coba sharing. Meski saya tetep gendut, ini cara ampuh lho, terbukti pada kedua teman saya. Tapi ingat, imbangi dengan cara makan yang sehat, jangan kayak saya. Oh ya, tips ini ilmiah lho, bukan mitos empiris. Saya ramu dari pergaulan, berbagai diskusi, dan literatur.

Minimal latihan 3 kali seminggu. Bagi porsi latihan ke tiga bagian otot besar yang harus dilakukan terpisah. Ketahuilah 3 otot besar itu: dada, sayap (punggung), dan bahu. Sisanya adalah otot kecil, lengan (bisep, trisep, fore arm), perut, paha, dan betis.

Dan 3 buah otot yang dianggap gaya, kalo 3 otot ini jadi duluan, pasti dianggap anak fitness, yaitu: dada bidang, otot lengan yang nonjol, dan perut sixpack yang bikin cewek menggelepar. Survei bilang kalo perut sixpack itu favorit wanita, dibuka dikit cewek pasti terangsang, ibarat tanduk bagi pemikat rusa betina. Otot lain yang disukai wanita adalah forearm yang besar. Ini lebih mudah bagi saya dan saya paling rajin melatih bagian ini.

Oh ya, dalam berlatih minimum 3 kali repetisi, dengan satu set latihan sebanyak 12 hitungan. Gunakan sistem mountain, dimana dari set pertama ke set kedua, beban ditambah, misalkan 12 hitungan pertama 5 Kg, maka berikutnya naik jadi 8 Kg. Set keempat usahakan hingga failure, alias sampai nggak kuat lagi, usahakan ada partner anda sebagai spotter kalo pakai alat manual, untuk mencegah cedera.

Stretching, itu mutlak perlu, biar nggak keseleo atau kram. Semua bagian tubuh dilemaskan dan ditarik, tangan, kaki, kepala, bahu, dada.

Awal dan akhir. Selalu awali latihan anda setiap hari dengan latihan cardio, ini penting untuk pemanasan dan membakar lemak secara drastis. Saya biasanya di awal dan akhir, sekitar 10 menit, pilih saja yang pas, entah itu sepeda statis, treadmill, atau alat yang mirip naek tangga itu. Kalau anda gendut banget kayak saya, diakhir juga wajib mengulangi latihan cardio ini.

Hari pertama

Dada, saya biasa main pake dumbel dulu terus ke bench press. Mainkan 3 bagian, dada atas, rata, dan bawah. Lalu cross over, dan butterfly.

Lanjut dengan otot lengan, biasanya bisep. Maen dumbel dulu terus barbel,

Lanjut ke perut, atas, tengah, terus ke samping.

Lalu fore arm sebagai penutup. Beban yang ringan dengan repetisi banyak lebih efektif.

Hari kedua

Bahu, kali ini bisa ke mesin dulu atau ke dumbel dulu, lebih efektif pake dumbel dulu untuk bagian samping depan belakang, terus lanjut ke mesin sambil duduk. Lanjutkan dengan dumbel lagi dengan satu tangan.

Lanjut dengan kaki, mulai dari paha hingga betis, semuanya mesin.

Lanjut ke perut, lalu fore arm.

Hari ketiga

Sayap, mulai dengan mesin. Depan belakang, lalu yang tangan rapat depan dada. Terus ke mesin tarikan mendayung, lalu pakai dumbel untuk gerakan menghentak ke belakang.

Lanjut ke lengan, kali ini trisep. Pakai alat yang seperti menarik pompa, lalu pakai dumbel untuk gerakan kebelakang kepala, lalu gerakan ayunan kebelakang sambil menunduk.

Lanjut dengan perut, lalu fore arm.

Kalau anda berlatih lebih dari 3 hari, maka hari keempat kembali ke hari pertama. Atau jika tenaga anda tidak mencukupi. Lakukan gerakan otot besar saja, otot lainnya dilatih di hari tersendiri.

Apa aja yang harus ada di tas fitness anda?

Sepatu fitnes. Ini wajib. Jangan nyeker deh, atau bersendal jepit ria. Secara nggak ada yang mau liat jempol kaki anda.

Handuk dan botol minum. Wajib tenteng. Kegunaan utama adalah menyeka peluh. Tapi handuk punya kegunaan lain yang akan menandakan tingkat keberadaban anda. Melapisi alat yang anda pakai, biar keringat anda nggak dishare folder. Biar anda nggak merasa bau kecut sekalipun tetep aja nggak ada yang mau latihan di alat yang dikucuri keringat anda.

Deodorant. Ini wajib, udah nggak jaman ke gym bau kecut keringat kuli. Di dalam ruangan ber-air conditioner lagi. Lakukan sebelum masuk ke sarana berlatih.

Sabun mandi, mandi dong abis latihan.

Alat-alat pelindung:

Sarung tangan, anda kan nggak mau tangan anda kapalan setelah kebanyakan megang besi barbel. Kalo ada cewek ngajak kenalan, masa disodori telapak tangan anda kasar.

Sabuk gede khusus fitness. Ini supaya anda nggak turun bero, dan kuat ngangkat beban secara maksimal.

Plastik, buat baju anda yang sudah penuh keringat.

Dan tentu saja baju ganti.


Etika ngegym

Ini beberapa panduan, biar anda yang pertama kali datang ke gym nggak malu-maluin. Atau setidaknya dianggap lumayan beradab lah.

jangan keluarkan teriakan-teriakan ketika anda mengangkat beban berat sekuat tenaga, nggak ada yang terpikat ketika anda keluarkan lenguhan-lenguhan khas manusia purba itu, apalagi yang mirip-mirip jeritan tersentak kaya sapi senggama.

Jangan kuasain alat, didudukin sendirian pas lagi bengong. Ingat banyak yang ngantri.

Kalo join alat, ketika selesai pastikan letak berat kembali ke saat dipakai orang tadi.

Jangan mengintimidasi member pemula yang angkatannya masih rendah, kalo perlu ajarin dong.

Kalo ada yang minta bantuan sebagai spotter, bantuin. Apalagi ketika ada yang mau mejret kegencet, segera tolongin atau bantu teriak panggil pengawas gym.

Selesai pake alat, kaya bench press, rapiin barbel ke tempat semula dan besi lifting dikosongin, dumbel abis pake balikin ke rak, jangan dibiarin berserakan di karpet.

Dan yang paling penting, jangan nunggak uang bulanan. Bayar tepat waktu yah.

Ok deh, akhir kata, selamat berlatih. Ingat, kesehatan itu mahal harganya, biaya rumah sakit membumbung, kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Jalani gaya hidup sehat sekarang juga.

Sunday, December 31, 2006

Tito dan Atan: Kala Perjalanan Harus Menikung

Hidup ini kata orang jangan pernah menoleh kebelakang. Useless katanya. Tapi malam ini gue menoleh sedikit ke belakang. Nggak terlalu jauh. Cukup 3 tahun kebelakang saja. Tepatnya di tahun 2003. Tahun yang sangat krusial, karena pas awal tahun itu gue baru saja lulus kuliah. Menyandang predikat fresh graduate.

Cerita ini mengambil sentra dua orang tokoh yang gue kenal dekat. Atan dan Tito. Keduanya tentu saja tidak saling kenal. Mereka berdua cuma kenal sama gue. Namun mungkin kini dunia mengenal kiprah mereka.

Hidup kata orang bijak merupakan pilihan. Setiap saat lo kudu milih. Yang mana pilihan yang baik buat elo, yah tawakal. Kan Oom Forrest Gump bilang kaya buka bungkus coklat (yang dijual di amrik, sekotak aneka rasa itu) sekotak pas lo pilih lo caplok, baru ketauan deh rasanya, entah pahit, getir, kelu, atau asam, syukur jika manis, ada juga yang bikin mabok.

Ada juga perumpamaan lain. Hidup ibarat mendaki gunung. Pilihannya lurus terus kala jalan menukik, atau berbelok ketika di tikungan. Semuanya so pasti tertutup semak. Ini saat elu berpisah dengan kawan seperjalanan elu. Mereka yang memilih menerobos lurus, kadang harus terus struggle di jalan yang curam. Dan elu kadang memilih nikung mencari jalan yang elu anggap cocok buat tapak elu. Konsekuensinya kadang tidak terbaca, mungkin kawan yang milih tanjakan curam cepet sampe ke puncaknya.

Nah, cerita dimulai.

Alkisah, di 2003, seorang Wahyuningrat baru aja mengantongi ijazah sarjana hukum. Dia mulai deh apply satu persatu, dari management trainee perusahaan rokok, lawfirm, ampe yang aneh-aneh. Maklum deh masih muda, haus tantangan. Lagian die kan sarjana multi talent dan punya reputasi hebat. Pokoke saat itu semangatnya mo naklukin dunia. Maunya cepet dikenal ama dunia. Pengennya tenar, dan sebagainya.

Beliau tidak pernah menganggur, ada aja project yang dikerjakannya. Juga beberapa perusahaan beken yang menerima dia, namun ditolak penuh kebodohan padahal kompensasinya pasti bikin sumringah ibu bapak yang mulia. Ada juga yang gagal saat tes terakhir karena terpedaya pikat wanita. Aduduh libido anak muda yang memabukkan. Padahal hampir aja dia bakal jadi esmud muda cara kilat.

Anyway, masuklah dia di kerja kantoran perdananya yang MTV banget. Jadi scriptwriter film! Sebuah pekerjaan yang terdengar gaya. Disebuah rumah produksi terkemuka di jagat persilatan Jakarta. Simple banget. Ada lowongan di milis, nah dia kirim deh itu cerpen-cerpen dia yang spektakuler. Sang employer, seorang penulis skenario senior tertarik. Jadilah dia di-hire. Gile, dapet kerja karena dinilai elu kreatif abis. Bisa mikir sesuatu yang gak kepikir ama common people.

Pas ditelp sang manager, die melonjak kegirangan. Die lapor ama nyokapnye. Akhirnya setelah 3 bulan makan-tidur-fitness-nonton bokep-datengin interview kerja, jadilah dia punya kerjaan perdana di tahun 2003 dengan bayaran 2 juta! Fresh grad kala itu palingan dapat 1,2 ampe 1,5.

Jam kerja yang gaya, ngantor cuma hari Rabu di jalan sinabung. Hari itu deadline skenario dikumpul dan dibahas ama sang script writer. Karena kita junior, maka kita adalah tim penulis sang script writer. Oh ya kita semua berempat, mbak vero, seorang ibu dengan background penulis novel di gramedia pustaka. Surya, asdos di fakultas tehnik UI, Tito, yang saat itu belum lulus kuliah di Jayabaya lagi skripsi, pengajar sekolah minggu yang taat, dan gue.

Hmmm pekerjaan yang menantang, gue dulu se-tim ama Tito bikin script sinetronnya Agnes Monica, ceritanya dua cewek kembar. Judulnya inspirasi dari hit lagunya Andien, Perawan Cinta, diproduksi Sinemart. Gue episode 5 tito bikin episode 6 gue 7 tito 8, dst.

Namun, nama kite masih lama muncul di credit title. Karena kita ceritanya asisten penulis skenario, yang muncul so pasti penulis utama. Ini emang masalah kredibilitas, orang belum tau kite orang. Wajar dan kita musti maklum.

Namun, gaji kita yang 2 juta ternyata dibayar 500.000 per episode dengan syarat sebulan 4 episode, which is karena kita masih ijo, kadang pas diapprove itu script, udah sebulan deh. Jadinya kadang (tapi sering) sebulan Cuma dapet gopekceng, hiks.

Namun, meski gaya ngantor nyantai cuma hari rabu, sisanya buat les bahasa perancis dan coba datengin interview demi interview (impian jadi esmud tetep bo’) mulai deh terasa juga perasaan kaya jadi pengangguran hehehe. Nggak gaya begajulan coba cari inspirasi di sofa rumah atau di gym.

Terus kami pun dalam perjalanan berguguran, Surya dapat beasiswa sekolah Master ke London, secara dia masih nyambi asdos. Mbak Vero secara dia udah bekeluarga sempat sewot dengan manajemen karena bayarannya dianggap kekecilan, iya seh die kan udah berkeluarga besar, wajar deh pecah kongsi dengan jalan agak gak enak. Tinggal gue dan Tito deh dynamic duo, kita emang belum punya tanggungan. Tapi kadang miris juga riset kita kalo lagi kumpul berdua, paling di rumah Tito makan mie rebus, di rumah gue ngemil gorengan, atau paling jauh boncengan di motor gue ke Dunkin Donat di Pasar Rebo deket rumah Tito. Hehehe. Lima ratus ribu sebulan. Yah karena kita masih muda ini jalan sementara kok, Tito sempet coba mo jadi sales dept store secara die ganteng mukenye, lebih cocok casting jadi pemeran utama die. Mukenye mirip banget ama Atalarik.

Anyway, gue gak tahan. Gue cuma tahan 6 bulan, 4 bulan full, 2 bulan udah nyambi kerja tempat laen. Jujur gue gak tahan hidup gaji segitu, secara gue sarjana hukum lulusan UI. Meski banyak yang nganggur nunggu kesempatan kerja kala itu, gue gak tahan juga digaji gopek ceng. Apalagi pas deket lebaran. Pengen dong punya uang lebih.

Nah pas bulan puasa tahun 2003, gue dipanggil interview dan diterima kerja (sekali lagi karena kekreatifan gue) bukan karena ijazah gue. Kali ini sebagai penulis komersil juga. Gue diterima jadi copywriter di advertising agency international bo! Kali ini mereka ngasih gue gaji 2 juta beneran. Gak tau itu angka darimana, tapi selalu terngiang dibenak gue. Tapi emang gaya kok saat itu gaji 2 juta. Fresh grad kalo jadi copywriter kala itu kata temen gue yang senior copywriter, konon cuma dapat 1,6 ampe 1,8. dan yang penting ngantor! Pakaian bebas lagi, n ngantornya ampe tengah malem, dan besoknya boleh masuk siang. Udah gitu kantornya keren banget, desain interiornya digarap serius dan berlokasi di Tebet. Bos nya ekspat bule lulusan San Fransisco. Kalo lembur dibeliin makan malem McD. Kliennnya bank Mandiri, Visa International, dll. Karya perdana gue muncul di koran Kompas, di TV, dan terpampang di billboard segede gaban di antero Jakarta. Semua keindahan ditambah dengan awak kantor yang asyik dan akrab. Wah asyik banget. Akhir bulan itu gue bisa beli celana jeans baru di Pasar Baru, dan pulang mudik lebaran ngantongin duit di ATM, 3 juta utuh, (sejuta dari kantor lama, honor telat masuk hehehe).

Inilah saat pertamanya gue menikung dan memilih berpisah dengan partner-sohib-kawan seperjuangan-sepeluh kesah, Daniel Tito Pakpahan. Gue memilih belok jadi copywriter ketimbang jadi scriptwriter. Tito masih lanjut meski sendiri.

Di dunia iklan yang asyik, gue berkenalan dengan temen seperjuangan gue, Atan. Lengkapnya M. Hardilas. Dipanggil Atan. Anak sunda asli, anak kom Unpad, yang cuma punya satu obsesi, jadi copywriter. Die udah tau itu yang diinginkan die. Anaknya polos banget. Sabar, dan tekun. Gak terlalu gila, tapi kreatif. Iya lah di industri ini semuanya kreatif. Saat perjumpaan pertama dia kaget, ada sarjana hukum nyasar disini. Well gue bilang gue masuk sini karena kreatif abis, bukan karena gelar, sebuah kompetisi yang fair. Lagian kala itu emang nggak ada sekolahnya buat iklan, specially buat profesi copywriter. Yang penting lo kreatif dan bisa mikirin kata-kata yang asyik buat iklan.

Jadi inget temen cewek gue yang super sexy finalis ajang kecantikan yang bilang kenapa dia milih kerja jadi sales di TV ketimbang di lawfirm, die bilang, kalo gue keterima di lawfirm pasti banyak yang bilang bukan karena gelar gue, nah kalo profesi ini pasti karena gue emang gape, gitu sabda si cantik. Ditulis lantaran kangen ama die bukan karena memperkuat argumentasi.

Dan satu lagi, jadi copywriter tuh ekslusif banget, nggak perlu ada psikotes dll, lo jago, creative directornya terpikat, masuk dah. Gaji udah standar, semua orang iklan tau pasaran. N kutu loncat dihargain, sering banget gue liat yang pindah-pindah itungan bulan, kadang balik lagi ketempat yang sama. Kerjanya keren pake casual, yang gue suka seh, kebanyakan di kantor dibayar mahal buat chatting Yahoo Messenger hehehehe. Cepet juga karirnya, paling itungan tahun sebelah tangan udah naik gaji berlipat lipat kalo lo emang gape. Ini industri western abis, kebanyakan lulusan luar yang kerja disini.

Nah si Atan. Die itu setelah dari 2 tempat, hinggap ditempat yang sama ama gue. Emang seh karya die biasa banget, kadang norak hehehe. Die juga nggak jago bahasa inggris, kalah ama gue. Makanya yang disayang creative director tuh gue, die agak dipinggirin, tapi sebenarnya gue banyak belajar dari die, die emang tekun banget mo jadi copywriter. Gue sering minjem literatur die dan nanya-nanya tentang adv creative writing ama dia. Maklum gue kan sarjana hukum. Meski kreatif kadang keblinger kalo musti bikin format TVC dan print ad. Dari die gue belajar baca brief dari AE, apa itu body copy, dsb.

Si Atan itu, temen begadang di kantor, temen makan bebek dan lele di warung tenda depan, temen sesama bergaji 2 juta di kantor secara fresh grad cuma kita berdua, yang laen udah experience semua. Kadang malem buta menjelang pagi, gue mampir ke kos-kosan die yang sangat bersahaja, ngopi instan bareng. Sambil ngobrol ngalor ngidul akan segala impian dan intrik kantor kita. Pulang menjelang kokok ayam pagi, dateng siang bukan karena ketiduran, tapi nyolong pergi-pergi datengin interview di kantor-kantor lain yang prospektif. Kami berdua sama-sama belajar di Tebet itu, apalagi pas datang Andre, sang group head handal yang senang sharing ilmu, dia bisa melihat talenta kami berdua. Dan dia paling bisa meng-encourage kite berdua buat maju, menggapai masa depan.

Atan akan menjadi copywriter hingga sukses, gue masih belum tau. Gue mulai merasa terlalu manja dengan jerat kapitalisme yang nikmat di dunia iklan. Lha wong advertising kan ujung tombak kapitalisme katanya. Tapi gue juga punya ambisi berkecimpung di jurnalisme, dan dunia yang baru, broadcast journalism. Rasanya menantang dan bisa ngasah intelektualitas gue. Lagian gue emang kudu kerja di sektor publik biar dapat beasiswa, kalo tetep di iklan, siapa yang bakal ngasih beasiswa kalo gue kerja di sektor kapitalis? Apa bisa kalo tetep di iklan gue tetep bisa kesampean cita-cita gue sekolah S2 diluar negeri? Gue kan pengen banget punya gelar LLM meski nggak jadi lawyer mahal.

Disitulah gue mulai menikung kembali. Dititik kegundahan gue itu. Saat itu pula gue gemetar menerima telepon dari HRD Metro TV. Gue diterima kerja di Metro TV. Atan disaat yang sama menerima telepon bernada sama dari Fortune, salah satu biro iklan terkemuka di Indonesia, Atan senang meninggalkan kantor yang baginya agak mengekang. Sedang gue ditahan hingga mau dinaikkan gajinya dua kali lipat, namun dengan bodoh menolak. Esok paginya Agency gede laennya nelepon dan nerima gue kerja disono, gajinya triple. Dengan idiotnya gue tolak dong.

Kiprah kita dimulai, loncatan besar, Atan akan memulai salah satu dari lompatannya di dunia iklan, sedang gue menikung kembali. Kali ini gue memulai karir baru. Karir yang akan mempertemukan gue dengan tokoh-tokoh terkemuka nasional seperti yang gue impikan kala SMA dulu.

Penghujung 2006, Nah kemana kini mereka. Gue akhirnya berada di Belanda, sedang berupaya menyelesaikan kuliah LLM gue dengan beasiswa yang gue dapat karena gue kerja di sektor publik.

Tito baru saja mengirim email ke gue kalo die sukses jadi scriptwriter, film layar lebar perdana dia “bangku kosong” produksi Starvision sedang tayang di 21. Kata anak-anak sukses berat di Jakarta. Die juga lagi garap skenario sinetron Heart. Sempet gue dulu tahun 2004 denger die sempet nulis sinetron jelangkung juga. Eh pesat bener ternyata kemajuannya.

Atan, dalam emailnya yang gue terima bulan lalu, setelah dari Fortune gue denger di tahun 2004 dia kerja di Bali, wah tempat kerja yang indah, dia juga garap beberapa TVC pendidikan yang tersohor, kini di loncatan yang kelima dia bekerja di Jakarta. Sudah sukses dan makmur.

Ah, menikung atau jalan lurus. Kadang kita memang patut menoleh ke belakang, namun jangan sesekali menyesali pilihan kita. Semua rencana Allah. Asal niat kita baik, pasti jalan ke puncak InsyaAllah terbuka lebar.

Untuk Daniel Tito Pakpahan (Tito) dan M. Hardillas (Atan)