Saturday, January 19, 2008

me and my daily life

Orang banyak bertanya pada gue, apa yang lo lakukan sekarang? Terutama setelah kembali ke negeri ini 3 bulan silam. Ok, berikut ini penjelasan gue.

Kembali ke profesi asal tentunya. Back to the blue man corps. Hehehehe. Mau lihat mahakarya seperti apa yang gue kerjakan bisa liat di sini. Silahkan saksikan streaming videonya dan transcript lengkapnya. Itu acara special akhir tahun yang lumayan sukses berat. Ratingnya tinggi bener dan sempat jadi perbincangan.

Oh iya, si portie, laptop tablet pc gue yang kecil tipis udah tidak bersama gue lagi. Gue jual. Dan siapa yang beruntung memilikinya? Salah satu rekan sekantor, katanya buat adeknya yang kuliah di medan. Adeknya jelas aja girang berat kejatohan laptop keren kayak gitu. Well, setelah menemani petualangan gue sejak 2003, agak sedih juga ngeliatnya pas terakhir gue re-install dan gue bilas biar kinclong sebelum lepas tangan.

Anyway, inilah gantinya, Compie the next generation. Udah tau kan cerita gue sebelumnya kalo gue pas balik udah nggak punya PC lagi gara-gara meledak 8 bulan sebelum gue mendarat? Nah uang hasil talak tiga ama portie gue pake buat ngerakit PC baru.

Compie next G adalah: Intel core 2 duo 1, 8 Ghz, DDR2 1 GB, SATA HD 80 GB, DVD RW, dan... humph... 19 inch LCD wide screen. Ya benar anda patut untuk berdecak kagum, sekali lagi LCD 19 inch wide screen monitor. Plok, plok, plok.

Kebayang kan kalo gue setahun di negeri kumpeni melototin laptop 10 inch gue yang mungil dan cuma bisa sirik ama bule tetangga kamar sebelah yang punya LCD 19 inch wide double. Makanya niat gue kalo punya duit ngerakit gue bakalan prioritasin LCD huehehehe.

Kalo punya duit lagi sembari nyelengin, gue pingin nambahin memory nya biar jadi 2 GB, terus wireless headphone, wireless keyboard biar nyaman ngetiknya.

Kata orang bijak jaman dulu, sebelum mati minimal nerbitin satu buku dulu. Gue dan beberapa temen gue lagi usaha menuju arah sana. Nah, kalo kata Engkong Ca’a pulang dari sekolah tinggi minimal bikin publikasi tulisan lah. Ok, tulisan perdana gue yang dibuat dari komputer baru ini berhasil muncul di koran Media Indonesia edisi 3 Januari halaman 8. satu halaman lho. Lumayan lah buat kolom analisa perdana. Ini gue scan dan gue upload, monggo silahkan didownload. Sekarang lagi berjuang keras mengatasi rasa malas dan godaan untuk karya kedua, duh deadlinenya udah mepet masih belum nulis-nulis juga neh hehehe.

Gue saat ini lagi nggak punya laptop. Karena gue rasa sekarang udah banyak yang punya, nah gampang banget tinggal nebeng modal flash disk aja kan? hehehe. Doain aja, katanya bulan depan ada yang mau ngasih gue Sony Vaio model baru. Semoga bener kejadian.

Kata orang tiada yang seindah bertemu kawan-kawan lama. Disela-sela kesibukan kerja dan menggapai cita-cita, selain bergaul dengan kolega karib ditempat kerja, tentulah bertemu teman lama adalah saat-saat yang mengasyikkan. Kali ini daripada kepanjangan gue ceritain gue ketemu siapa aja, mending fokus ke temen-temen yang dulu gue kenal di belande.

Let’s see. Sejak kembali sudah beberapa kali gue reunian. Dulu kita semua sama-sama mahasiswa disono. Cuma pakai kaos oblong dan manggul ransel dekil, kini kedok terbuka dan status asli kembali disandang di tanah air. Huehehe.

Acara yang diniatin kumpul-kumpul palingan beberapa kali. Paling sering di Senayan City. Disini ketemu dengan Annis, si ibu korps pemegang paspor hitam. Adept, yang jadi mandor di pabrik alat penghasil polusi kendaraan terbesar di Indonesia, Kiki, peneliti gadungan yang sempat ketemu setelah menyelesaikan kewajibannya yang mirip-mirip ABRI masuk desa. Desanya terpencil lagi. Nun jauh di Berau sana. Mia, yang punya profesi tukang gambar gedung. Siska, si neng geulis asli Bandung yang ternyata dosen terbang, Silvia si aktivis sejati yang selalu tampil ceria, Tias si penari yang baru mendarat.

Ada juga acara diskusi lanjutan Indonesia Law Society Utrecht yang kini kembali digelar di kediaman sohib gue partner diskusi malam si Imam Nasima, yang kini menjadi peneliti, gue lagi bantu publikasi buku perdana die, disini gue kembali ketemu Mbak Linda, ketemu juga dengan rekan yang dulu cuma kenal di milis macam Hernowo dan Bona.

Acara yang sering menjadi reunian, apalagi kalo bukan pas dapat undangan kawinan. Sudah dua orang kawan di belande yang kawin. Pertama si Odi botak, yang kini meniti karir di pabrik makanan ternak terbesar di dunia. Ajang reunian pertama, banyak banget kawan yang dulu gue kenal di Wageningen muncul disini. Terutama komunitas Bogor. Ada ceu Olie dan ceceu-ceceu lainnya. Maklum wageningen terkenal dengan IPB kedua huehehehe.

Terus kawinan si Achie, yang dulu sekolah dokter di Rotterdam, kini ia melanjutkan profesinya sebagai tabib spesialis cut and paste. Paling rame ini ajang reuniannya. Akhirnya ketemu si Nana, sohib gue sang aktivis LSM sejati cum kuncen Bakoel Kofie Cikini. Yang tetep keukeh 3 kali, meski di tanah air kite sudah pada sadar dan menguranginya menjadi 2 kali. Namun ternyata si Nana tetep 3 kali huehehehe. Ada si Icha, yang ternyata gue baru sadar die bekerja di salah satu lembaga yang pimpinannya adalah langganan narasumber di program acara gue. Fajar, sobat sejati yang datang dengan jas lengkap dengan dasi Utrecht, dia juga satu korps dengan Annis di korps black pasport holder. Luluk, sang peneliti kampus Depok yang tetap terlihat ceria, dan masih banyak lagi. Namun yang paling seru adalah, akhirnya bisa juga kopi darat dengan mas Morris. Salah satu legenda hidup, setelah Farid Mardin hihihi. Harus diakui mas Morris yang berprofesi sebagai penguasa taman suropati ini terlihat lebih muda dan segar daripada potret diri yang ia pajang di blog nya.

Gue juga akhirnya bertemu dengan Tommy, sohib yang akrab via online saja, kita itu mencari nafkah satu gedung, dan di belande juga. Namun ketemunya di tempat yang eksotik. Di Aceh. Pertama kalinya gue ke Aceh. Dan melewatkan malam yang seru berwisata kuliner bersama Tommy yang lagi kerja di korps blue helmet.

Gue paling sering ketemu dengan Annis dan Adept. Minimal 2 minggu sekali just for a cup of coffee. Kite lagi ada proyek idealis seru. Apa proyeknya? Ntar deh tunggu tanggal maennye. Pamali kalo diomongin sekarang kata mpok annis. Pokoke kalo ini jadi kite bisa terkenal dan kalo kata adept bisa buat ganti velk mobil.

Oh ya, informasi nggak penting lainnya adalah, setelah 2 bulan masih takut akhirnya gue sudah memberanikan diri menyetir kembali, dan kaget juga ternyata masih faseh juga. Bener kata orang, seperti naik sepeda, tidak akan pernah lupa caranya. Meskipun sekalinya keluar nyetir malem, karena belum terbiasa dengan jalan tol yang semakin banyak, pulangnya sukses nyasar ke tol Bandung.

Gue juga sudah kembali ke gym. Gue paksain. Menimbang ukuran lingkar perut yang makin buncit akibat nikmatnya makanan full kolesterol depan kantor. Bulan pertama cuma 3 kali dateng dan sempet keseleo otot karena kelamaan berhenti latihan. Bulan kedua ini gue udah mulai rajin, juga sudah mulai nenggak protein shake untuk kembali membentuk otot. Doakan, biar badan gue kembali keren seperti dulu.

Thursday, January 17, 2008

aku sedih sekali hari ini

Entah letupan perasaan apa yang terjadi pada diri ini. Semuanya bergejolak. Lebur jadi satu. Hancur berkeping. Menjerit hati ini.

Bekerja pada profesi ini adalah selalu memperoleh informasi terkini dari para sumber-sumber yang bergeletakan dimana-mana.

Namun bukan informasi seperti ini yang ku harapkan untuk hinggap di telinga ini. Apalagi ditambah bukti visual yang menggeletak di tanganku.

Hubungan kita memang sudah putus sambung berulangkali.

Aku ini mungkin memang pria yang tidak layak. Berulangkali mengecewakanmu.

Selalu punya impian gila mengubah dunia. Lebih mengutamakan ambisi konyol diluar logika. Kerap mengajakmu kencan yang kurasa unik, namun kau rasa udik. Belum dapat membawamu makan di tempat yang layak. Senantiasa menjemputmu dengan kendaran di bawah standar. Dilengkapi dengan jam kerja yang sangat sangat tidak normal untuk hubungan normal.

Aku paling lemah dalam mengambil hati orangtuamu. Aku parah dalam melayani komunikasimu. Aku tidak sanggup memenuhi tuntutan jalinan layaknya manusia dengan pola hidup yang normal.

Tapi aku selalu berusaha. Aku mencoba. Penuh upaya dan sepenuh hati.


Bukan tanpa hasil, selalu ada perkembangan.


Namun itu belum cukup bagimu.


Hingga di saat yang kurasa saat sangat indah dalam hidup.

Kau berkata, cukup sudah.



Aku terhenyak.


Apa yang salah jika ada manusia yang punya cita-cita mulia. Memilih usaha menoreh tinta emas dibanding menambang emas. Memilih hidup dengan resiko dibanding hidup mapan. Memilih karir yang tidak dipilih orang kebanyakan. Melakukan pekerjaan amal yang sering tanpa imbalan. Hidup jujur dengan ambisi mulia untuk orang banyak. Punya impian agung mengubah dunia.

Yang salah adalah,

Pola hidupku itu semua bukanlah yang kau harapkan. Kau sudah cukup bersabar menerima semua itu. Sudah cukup menelan banyak sekali letupan-letupan. Kau hanya ingin kemapanan dan pola kehidupan normal. Jaminan dan kepastian.

Dan aku bukanlah orang yang bisa memberi itu.




Kau terlihat amat cantik sekali pada hari itu.

Aku berjalan ditengah banyaknya pengunjung. Telat datang karena tidak antusias untuk datang awal, sengaja datang menjelang usai. Langsung menuju ke antrian tamu. Berupaya tetap tegar saat menapaki tangga pelaminan. Makin mendekat, wajah ini makin bergetar.

Aku menyalami kedua orangtuamu dengan takzim. Melihatmu aku terpana sejenak. Kau terlihat makin cantik. Paling cantik dari segala momen dalam memori kepala. Aku memaksakan tersenyum. Mencoba tegar. Mengucap kata selamat dengan nada riang, namun agak tergetar. Kita saling mengecup kedua pipi. Aku mencoba tegar. Aku menyalami pria disampingmu. Badan terasa makin terguncang. Juga saat menyalami orangtuanya. semakin terasa keras guncangannya.

Menuruni tangga pelaminan badan terasa lemas. Aku tidak menuju ke buffet.

Menoleh sejenak memandangmu sekali lagi. Lalu kuputuskan segera keluar gedung. Kunyalakan sebatang rokok dengan tangan yang seperti terguncang. Di parkiran, tak terasa air mata sudah mengalir deras.