Showing posts with label kerja. Show all posts
Showing posts with label kerja. Show all posts

Thursday, February 03, 2011

preparing the great manuscript (again)

Always aim high, seperti ajaran mentor saya. Karena itu saya yakin bahwa ini akan menjadi dahsyat. This is gonna be somethin' huge. No kidding.

Bismillah. First scratch begin tonight.

Tuesday, February 01, 2011

coffee time with squadron bangau terbang


Minggu malam kemarin, gue menghadiri acara kumpul-kumpul yang sudah makin jarang kita lakukan. Ngobrol santai sembari ngopi di teras atas sebuah kedai. Seorang konsultan jasa pemenangan pemilukada dan tiga orang jurnalis televisi veteran, gue pernah bersama mereka semua dulunya tergabung dalam kesatuan squadron bangau terbang.

Kenapa dijuluki itu? karena dulu saat kita masih bertugas dinas, sama persis keadaannya dengan kondisi judul komik salah satu serial Tanguy and Laverdue itu. :) yah minimal kalo lagi stress salah satu dari kita suka menirukan suara bangau-bangau itu lah.

Gue terus terang paling muda diantara mereka semua, yang sudah mulai mendekati usia 40 itu. Tapi, tetep asyik ngobrolnya. Kami berbagi banyak insight-insigh atas dunia persilatan yang makin lama kian kejam. Tak lupa pertanyaan klasik, kapan kah kita bisa berkolaborasi kembali mengulang kejayaan masa gemilang dua tahun silam. Apakah Gue akan kembali turun gunung ke jagad kanuragan? Dan diskusi-diskusi dodol lainnya tentang sepak terjang para kolega kita di belantara ibukota.

Salah satu diskusi malam itu saat Gue sedang curhat gundah gulana, adalah sebuah masukan bagus dari kawan Awing, yang menekankan kepada Gue untuk tetap bertahan berjuang, walau demi setitik perubahan. Hohoho. Meski berat, tapi masukan itu membuat Gue sedikit semangat lagi.

Benar juga kalo Gue kali ini merenungi, apa yang dikatakan sang pujangga Ovid, beberapa tahun silam.

Adde parvum parvo magnus acervus erit --Add a little to a little and there will be a great heap (Ovid)



Wednesday, January 26, 2011

To Teach or Die Tryin'



"By learning you will teach; by teaching you will learn." --Latin proverb

I really enjoyed my lecturing session, every Thursday morning at Institut Bisnis dan Informatika Indonesia. I taught course on media law/ communication law for bachelor degree students in mass communication major (broadcast and public relation). I only handle one class once a week, every semester ganjil. It surely fun, even though it's hard to maintain with all my plenty work activities. The spirit of sharing and spread some new ideas to this young future generation, is always tempting.

My philosophy of teaching is to create a stimulating yet non-competitive and non-intimidating environment in the classroom. I feel that the enthusiasm I bring to the classroom helps to create an encouraging and supportive atmosphere. I always tried my best to re-present the material, combined with my own experience to make the class fun and reachable for the students.

well, only one word to describe my six-monthly teaching activities, awesome. :)


Sunday, June 06, 2010

LITIGATOR


I'm a non-practicing lawyer, but check out my two colleague here. They are the top-notch choice inside or outside the courtroom for any civil and criminal litigation. Trained by the best in this profession.





















Saturday, October 03, 2009

sang pengembara kembali berjalan

Hidup seorang anak manusia terkadang cukup indah untuk dilewatkan secara statis. Banyak manusia ditakdirkan untuk mengalami hidup yang penuh warna, dibanding varian warna yang ada. Jangan pernah menyesali berkah seperti itu. Toh, kita selalu punya cerita yang selalu bisa dibagi dengan penuh gelak tawa. Mengenang pahit-getir-manis-seru nya hidup. Selalu ada sisi indah dalam kehidupan seorang pengembara.

pengembara selalu menapak. Terus menapakkan jejak langkah.













my desk












packing up











clean desk
















last walk in the studio alley













melepas penat sejenak di nusa dua, hehehe.
terus dapat telepon, Yuks mengembara kembali.


kali ini gue akan mengabdi untuk negara Indonesia tercinta dulu.

Thursday, December 25, 2008

bicycle philosophy

“When I see an adult on a bicycle, I do not despair for the future of the human race.” -H.G. Wells-

“Get a bicycle. You will not regret it.”
-Mark Twain, Taming the Bicycle-

“Nothing compares to the simple pleasure of a bike ride.”
-John F. Kennedy-

“Think of bicycles as rideable art that can just about save the world.”
-Grant Petersen-

“Bicycles are almost as good as guitars for meeting girls”
-Bob Weir, Grateful Dead-

“This is their hobby. They have bicycles instead of Porsches or golf clubs.”
-Jennifer Johnson-

“Bicycles are social catalysts that attract a superior category of people”
-Chip Brown-

“Let a man find himself, in distinction from others, on top of two wheels with a chain and his vanity begins to swell out like his tires.”
-
Leon Trotsky-

“The bicycle surely, should always be the vehicle of novelists and poets.”
-Christopher Morley (American author and editor 1890-1957)-

“The bicycle is the most efficient machine ever created: Converting calories into gas, a bicycle gets the equivalent of three thousand miles per gallon.”
-Bill Strickland, The Quotable Cyclist-

“I don’t believe in Peter Pan, Frankenstein or Superman; All I wanna do is bicycle, bicycle, bicycle…”
-Freddie Mercury, Queen, 1978-

“The bicycle is the most civilized conveyance known to man. Other forms of transport grow daily more nightmarish. Only the bicycle remains pure in heart.”
-Irish Murdoch, ‘The Red and the Green’-

“The bicycle is the noblest invention of mankind.”
-William Saroyan, ‘The Noiseless Tenor’-

“In politics, one can learn some things from cycling, such as how to have character and courage. Sometimes in politics there isn’t enough of those things.”
-Guy Verhofstadt, Prime Minister of
Belgium, 2004-

“Whoever invented the bicycle deserves the thanks of humanity.”
-Lord Charles Beresford-

“When you ride a bike and you get your heart rate up and you’re out, after 30 or 40 minutes your mind tends to expand; it tends to relax.”
-President George W Bush, May 2004-

“I thought of that while riding my bike.”
-Albert Einstein, on the theory of relativity-

“When the spirits are low, when the day appears dark, when work becomes monotonous, when hope hardly seems worth having, just mount a bicycle and go out for a spin down the road”
-Sherlock Holmes author,
Arthur Conan Doyle, Scientific American, 1896-



Sunday, November 16, 2008

My First Bike 2 Work

“Traffic jam and high fuel’s price. Don’t get mad. Get a bike.”

-anonymous-


Tekad sudah membulat. Tapi belum pernah kesampean. Hingga suatu saat,

“Lo mau beli ini nggak? Istri gue mau ganti sepeda. Die nggak suka pas gue beli yang tipe ini.” Sebuah tawaran menggiurkan dari senior gue waktu gue iseng numpang wifi sekaligus silaturahmi di kantornya. Sang kolektor sepeda anjrit itu menawarkan salah satu sepeda anjritnya yang sangat menggiurkan. Belum sebulan dibeli dan nyaris jarang dipakai.

Gue emang pengen banget hidup sehat lagi, mengulang kisah sehat saat gue sekolah 2006-2007 dimana gue naek sepeda ontel merek Gazelle sejauh 20 KM pulang balik total 40 KM. tapi
sekarang mah agak ajaib juga kalo mengulang pola seperti itu. Faktor cuaca dan kondisi jalan yang tidak bersahabat. Juga harga sepeda yang makin anjrit, sejak dulu gue beli sepeda Federal.

Kembali ke nasib sang sepeda. Sepeda itu begitu menawan. Harganya yang nggak menawan. Ia adalah Oyama folding bike ban 16 inchi. Sepeda lipat yang praktis. Karena empunya sepeda seorang maniak, maka ia sudah bertahtakan aksesoris yang satuannya mahal bener: lampu gres depan belakang, shockbreaker, sepasang tanduk, ban radial besar, pelapis kabel dan rantai, dua buah bel antik, dan sebagainya.

“Hmm liat minggu depan deh. Gue pengen banget, tapi liat dapet rejeki nggak ya gue minggu depan.” Sejak itu sang Oyama makin kebayang di kepala.

Sebuah telepon tengah malem kepada sahabat yang udah dua tahun naek sepeda kemana-mana.

“Gimana menurut lo men?” konsultasi panjang lebar. Dengan kesimpulan yang makin meyakinkan gue.

Sayangnya transaksi gagal terjadi karena gue gak sanggup nebus harga anjrit itu. Rejeki gue nggak mungkin gue spend semua. Kan gue butuh simpenan buat persiapan ini itu tahun depan.

Hingga suatu saat,

“Lo aja deh yang bayarin sepeda gue, gue nggak terlalu suka ama yang mau beli. Kalo elu yang beli gue rela. Kan elu suka barang yang aneh bin unik.” Sang abang senior menelepon.

“Hmmm harganya turun jadi menarik. Tapi masih anjrit. Dua kali bayar ya bang?”

“sip!”

Suatu malam setelah barang berpindah juragan, dan tekad hidup sehat -ditengah-kepungan-godaan-kolesterol-dan-nikotin- menguat. Gua musti bike to work alias naek sepeda ke kantor. Penasaran, kayaknya sih bisa.

Obrolan via telepon, kembali kepada sang sahabat yang penggowes sepeda senior.

“Wah ada tuh komunitasnya. Hubungin aja, nih gue ada nomor hapenya. Kemaren gue baru kenalan, ada robek, rombongan bekasi, jalurnya lewat kalimalang.“

“Kalo ke kantor kan elu semangat kalo naek sepedanya bareng-bareng jadi seru dan nggak capek. Ada yang memotivasi, kalo keserempet bus kan nggak bakalan kapok.”

Singkat cerita, berhasil kontak-kontakan dengan salah satu member, Oom Ram. Kok Oom? apakah pada tua-tua semua? Hehehe, ternyata komunitas bike to work itu punya sapaan khas. Kalo komunitas biker motor kan panggilannya ‘bro’. nah kalo bike to work itu panggilan tua muda ya ‘Oom’ dan ‘Tante’ hehehehe. Seru juga.

FYI, jarak yang memisahkan rumah gue dan kantor tercinta adalah 15 KM. Takaran didapat dari temen yang ahli ukur jarak.

Hari perdana gowes sepeda, gue bangun pagi. Kumpul di halte Giant pondok kelapa. Jam 6 udah kumpul deh sekitar 30 an Oom2 dan Tante2 bike to work rombongan bekasi. Ternyata banyak yang rumahnya lebih jauh dari gue, macam di Narogong, dan tujuannya lebih jauh dari gue. Sudirman, Majapahit, Grogol, bahkan ada yang ke Priok. Gile.

Setelah kenalan perdana, ditambah pagi itu ada yang bawa kue buat sarapan bersama, wah seru neh komunitas. Mereka hadir dari berbagai profesi. Kalo yang orang Bank biasanya ngebut cepet, karena Bank buka pagi jam 7 hehehe.

Jam 6.30 kita jalan menyusuri kalimalang. Eh cepet lho. jam 7.10 udah sampe aja di meeting point carrefour cawang. terus kenalan lagi sama om dan tante lainnya. dan tak terasa kantor di subroto sudah didepan mata. jam 7.30 sudah memasuki pekarangan gedung.

Saat itu juga manager gedung menegur sopan, gue baru tahu kalo sepeda nggak boleh lewat lift. heheheh. maklum nubie.

Lipet sepeda di kolong meja, terus mandi mandi di shower. Syegar, terus dengan bangga pamer kalo gue sampe dengan selamat ke si assignment editor yang kemaren nyela-nyela, "Mana mungkin rumah lo jauh begitu, lo bakalan sampe. Jalanan ribet kayak gitu, mo ngantor jam berapa lo?" hehehe... doi terkesima. terus memotivasi beberapa teman yang penasaran denger cerita perdana gue. pada kaget kalo ternyata ada komunitas jalan barengnya. apalagi yang didepok juga terkesima karena ada rombongan depok juga.

Rekan kerja sekiri-kanan kubikel pada ngakak semua ngeliat foto di MP. Foto perdana gowes ke kantornya ada yang mengabadikan. Langsung gue taro jadi wallpaper hehehe. Terkesima neh... badan saya yang segede itu nyampe juga ke kantor pake sepeda lipet imut.

Efek keduanya yah, makan dan ngerokok tanpa rasa bersalah hehehe...


Malamnya setelah kelar meeting dengan bos jam 10 malem, dengan nekad nggak mau naro itu sepeda lipet di bagasi mobil temen yang pulang lembur dari Kemang. Pengen ngetes pulang malem pake seli (sepeda lipet). Yo wis, nekad ah, nyalain lampu, mulai deh gowes sendirian.

Eh sampe rumah juga lho. meski catatan waktunya agak molor. 80 menit lah sampe rumah... kalo paginya kan 40 menit bersih. mungkin yang agak salah gara-gara nekat tetep mau pake jins nggak mau ganti celana lagi.

Ah tapi naik sepeda memang nikmat...

wah tak sabar untuk trip berikutnya....

“I want to ride my bycle…”

-sayup-sayup suara MP3 Queen dari meja depan-








yang gemuk-gemuk foto dulu












halte robek, depan giant pondok kelapa













meeting point kedua, depan carrefour cawang















kite liat rupa gue sesudah 3 bulan


gowes perdana dapat dilihat videonya di sini

Monday, October 27, 2008

Percakapan bodoh suatu sore di sebuah cafe








The morning show producer - You know what we should do? We should leave, together.

The senior cameraperson - Leave? What do you mean leave?

The morning show producer - Leave this company, together, I mean all of us, the whole package, then come to other news station as a package. We are practically every single one you need to run a news channel, right? We’ve got you, the senior cameraperson, your portfolio will make any TV station drool over. We’ve got you, the talented news anchor who got his company won many awards in a year. We’ve got you, the young talkshow producer, who can get almost any important guest appeared in our show. We’ve got you, the assignment producer, who always accomplished any impossible or ridiculous assignment…

The graphic producer - And where do I fit in this?

The morning show producer - We’ve got the one workaholic bastard who’s so high on his job he would stay up at this office until 3 in the morning thinking of how the visual look of this channel.

Everyone - Hahahahaha!

The graphic producer - (still laughing his ass off) You’re funny.

The morning show producer - And we’re all funny.

The field producer - (coming over to the table) Hey, sorry I’m late. You know how that live report can go… Anyway, remind me, why are we meeting here again?

The morning show producer - exactly why we all should move to another TV station which - with all the things that we have to offer - will pay us at least twice.

The news anchor - That won’t help us, you know, spending-wise. As the number of your disposable income increase, your needs and spending habit will also multiply exponentially.

The morning show producer - We’re practically a dream team here on the table.

The field producer - (stirring her coffee) What is this thing about the dream team?

The talkshow producer - Our friend here thinks that we should form a team and leave the company together.

The field producer - Leave? Where?

The morning show producer - Anywhere. As a whole package. We deal - you know, the remuneration package, the whole shindig - as a team. It’s like pay up this much and you’ll get a whole package. The best talents nurtured by the best TV station.

The field producer - Is that even doable?

The news anchor - I think I’ve read about it somewhere. A whole team of engineers moving from one oil company to the next.

The assignment producer - Anyway, which TV station do you have in mind particularly?

The morning show producer - ****, ***, and *******

The field producer - The first two sound about right, but ******* treats people like shit.

The morning show producer - How do you know?

The field producer - I have a friend who’s a human resource specialist, he knows every HR practice in every TV company in this country.

The news anchor - As long as we’re talking about what kind remuneration package we want, I’m gonna throw in: better car.

The assignment producer - What? What is that gonna do you? You don’t even drive.

The news anchor: I don’t drive but I use the car, right?

The field producer - You know what I want? Fashion allowance.

The senior cameraperson - Here here!

The graphic producer - What the hell are you talking about? Fashion allowance?

The field producer - Extra allowance in our monthly salary to get the best fashion items, to maintain our looks, you know. Shoes, bags…

The graphic producer - Hahaha, that’s gonna kill the whole deal right there. No company is stupid enough to grant people like us something as extravagant as the so-called fashion allowance.

The field producer - I’m serious. The other day, I busted my high heels on Parliament building. I think I should deserve some kind of compensation, don’t you think?

The morning show producer - Yeah, good luck with that.

The senior cameraperson - Whatever, man, as long as there is no stupid uniform policy.

The assignment producer - Unlimited Blackberry and phone bill would be nice.

The talkshow producer - What’s wrong with the one you have now?

The assignment producer - The 300 a month crap? I spent at least three times as much each month!

The field producer - Maybe if you weren’t using it to sweet-talk every girl in our office …

The assignment producer - Getting jealous, are we?

The field producer - Hahaha, you wish!

The news anchor - (to the morning show producer) Why are you so quiet all of a sudden?

The talkshow producer - And what is that you’re writing on that stupid napkin?

The morning show producer - (smiling ear to ear) Our minutes of meeting. The list of remuneration package that we’re gonna ask from **** and *******.

The assignment producer: On that? You’re gonna hand our dealing points on a piece of napkin?

Everyone - Hahahahaha!



*Dicontek dari blognya ika natassa

Saturday, September 13, 2008

a cup of mocca latte, zip it slowly

Another task accomplished. Sebuah pekerjaan khusus yang membuat gue hampir sakit jiwa temporer. Kalau tidak ada sokongan dari kawan-kawan sejawat yang asyik-asyik, tiap malam bawaannya mau ngedraft surat resign dan ngisi formulir lamaran PNS PT Pegadaian. Hehehe. Terima kasih kawans, kalian penghilang stress nomor satu memang.

Sebuah talkshow khusus 13 episode dengan 91 narasumber maha penting yang harus rampung dalam 4 minggu tanpa jeda. Sebuah kerja marathon penuh riset, lobi, desain produksi, desain teknis, dan perjuangan melelahkan lainnya baik fisik maupun mental. Menghabiskan 5 slop rokok, 5 galon kopi hitam, 5 krat vitamin C UC 1000, 5 box madurasa, dan sebotol sabun cair untuk mandi di shower kantor.

Sebagai seorang bujangan, perayaan paling enak dari penyelesaian sebuah tugas adalah: tengah malam buta bersama satu brown bag besar berisi American junk food full cholesterol, sofa malas, dan menonton kembali HBO yang menayangkan ‘Any Given Sunday’. Kemewahan sederhana yang rasanya setara dengan menghabiskan 2 gelas kopi dengan seorang wanita cantik. Sudah 4 minggu ritual terakhir ini sempat hilang.

Keesokan harinya bangun siang. Sebuah kemewahan, setelah empat minggu rodi dari jam 9 pagi hingga jam 3 pagi dini hari tanpa jeda libur sama sekali.

Lanjut masih harus masuk kantor untuk urusan administrasi, tanda tangan-tanda tangan yang terbengkalai. 2 hari seperti itu, dilakoni dengan kabur cepat dari kantor, dan akhirnya bisa hang out untuk beberapa meeting yang tertunda.

Hari libur tiba. Cuma dikasih jatah 2 hari dari 8 hari libur. Bangun tidur langsung bikin appointment with my fave barber. Program show ini membuat rambut gue cepet banget gondrong. Penampilan rapih, lanjut relaksasi ke ZEN. Jurus-jurus massage sang therapist membuat gue bugar kembali. Lanjut bobo-bobo santai sembari nonton tumpukan DVD di rumah.

Malamnya bikin senang orangtua gue, dengan menyambangi sembari membawa 3 bungkus ukuran jumbo Chinese food favorit mereka. Lanjut malamnya khusyu menulis manuscript gue yang belum kelar. Tinggal editing aja sebelum dibawa ke penerbit yang sudah antusias.

Lanjut tidur. Hehehe. Terus sore-sore bangun deh dandan. Shaving dan aftershave juga wajib. Kan nggak boleh tampil lusuh di depan wanita cantik. Undangan buka puasa bersama sudah membludak. Gue sempatin hadir di semuanya, namun susah juga karena tergantung stamina, jadi gue datengin yang gue udah komitmen duluan.

Badan masih kendor, otot sudah tidak sempat dilatih ke gym 4 minggu ini. Bulan puasa juga tidak kondusif untuk olah bugar. Jadinya istirahat penuh saja me-recharge stamina yang terkuras. Waktu luang sangat mewah sekali akhir-akhir ini, digunakan semaksimal mungkin untuk membaca beberapa buku-buku to feed my brain.

Saat ini: browsing-browsing nggak penting, update-update situs-situs pergaulan sosial, milis, blog, dan tentu saja chatting dengan beberapa teman. Menyusun rencana untuk menggunakan sisa jatah libur di sebuah resort indah di Berau jatah teman yang sedang riset lapangan.

Advice of the day, “Enjoy your leisure time while it last, buddy.”

Mengenai acara tersebut, bisa didownload di sini .

keterangan foto di atas, semua bermula di meja ini: data kontak dan schedule narasumber, tumpukan data riset dari berbagai instansi yang musti diolah, post it berisi telepon-telepon yang masuk dari berbagai humas, ajudan, sespri, dsb. Bungkusan makanan penahan lapar, charger handphone yang tidak boleh mati Karena terus menerus berdering, gelas kopi, staples andalan, wallpaper gambar Al Gore pembangkit semangat, tumpukan data yang terus menggunung tiada henti, buku-buku referensi: Memoar Abdul Rahman Saleh, Janji SBY, memoar Dino Patti Djalal, buku Bappenas, report Departemen PU, report Departemen Keuangan, dsb. Map clipboard biru andalan berisi rundown yang terus diupdate, sebotol vitamin, dan jaket tebal penahan AC yang dingin.