Showing posts with label kantor. Show all posts
Showing posts with label kantor. Show all posts

Wednesday, January 26, 2011

To Teach or Die Tryin'



"By learning you will teach; by teaching you will learn." --Latin proverb

I really enjoyed my lecturing session, every Thursday morning at Institut Bisnis dan Informatika Indonesia. I taught course on media law/ communication law for bachelor degree students in mass communication major (broadcast and public relation). I only handle one class once a week, every semester ganjil. It surely fun, even though it's hard to maintain with all my plenty work activities. The spirit of sharing and spread some new ideas to this young future generation, is always tempting.

My philosophy of teaching is to create a stimulating yet non-competitive and non-intimidating environment in the classroom. I feel that the enthusiasm I bring to the classroom helps to create an encouraging and supportive atmosphere. I always tried my best to re-present the material, combined with my own experience to make the class fun and reachable for the students.

well, only one word to describe my six-monthly teaching activities, awesome. :)


Saturday, October 03, 2009

sang pengembara kembali berjalan

Hidup seorang anak manusia terkadang cukup indah untuk dilewatkan secara statis. Banyak manusia ditakdirkan untuk mengalami hidup yang penuh warna, dibanding varian warna yang ada. Jangan pernah menyesali berkah seperti itu. Toh, kita selalu punya cerita yang selalu bisa dibagi dengan penuh gelak tawa. Mengenang pahit-getir-manis-seru nya hidup. Selalu ada sisi indah dalam kehidupan seorang pengembara.

pengembara selalu menapak. Terus menapakkan jejak langkah.













my desk












packing up











clean desk
















last walk in the studio alley













melepas penat sejenak di nusa dua, hehehe.
terus dapat telepon, Yuks mengembara kembali.


kali ini gue akan mengabdi untuk negara Indonesia tercinta dulu.

Wednesday, January 14, 2009

My passion, Bicycle

Dulu waktu masih sekolah di negeri kincir angin, gue senantiasa ditemani dengan Gazelle tua model tukang somay, lengkap dengan dua kantong belanja di kanan kirinya. Suka duka banyak dialami. Tiap hari menempuh jarak 20 KM bolak balik.



























Kini gue kembali menemukan kenikmatan itu. Semenjak ketemu komunitas yang punya hasrat bersepeda pulang balik kantor. Kembali gue melakoni ritual bersepeda ria. 15 KM jarak rumah-kantor, 2-3 kali seminggu.















Dua buah tunggangan gue, yang satu beli dari kawan yang bosen dan yang satu lagi beli dari kawan yang menang doorprize.
















Oyama folding bike ban 16 dengan ban tapak besar dan shockbreaker tengah. Ringan dijinjing. Cocok untuk membakar lemak karena bikin cepat berkeringat. Ukuran ketika dilipat cukup pas di kolong meja kantor, dan muat di bagasi semua jenis sedan.

MTB United Command Disc ban 24. Jatuh cinta karena sudah rem cakram depan dan full suspension depan belakang. Biarin deh kalo kata orang badan gue yang gede ini nggak cocok pake ban 24. Gue menikmati kalau melintasi medan becek yang perlu manuver sulit dengannya.

Sunday, November 16, 2008

My First Bike 2 Work

“Traffic jam and high fuel’s price. Don’t get mad. Get a bike.”

-anonymous-


Tekad sudah membulat. Tapi belum pernah kesampean. Hingga suatu saat,

“Lo mau beli ini nggak? Istri gue mau ganti sepeda. Die nggak suka pas gue beli yang tipe ini.” Sebuah tawaran menggiurkan dari senior gue waktu gue iseng numpang wifi sekaligus silaturahmi di kantornya. Sang kolektor sepeda anjrit itu menawarkan salah satu sepeda anjritnya yang sangat menggiurkan. Belum sebulan dibeli dan nyaris jarang dipakai.

Gue emang pengen banget hidup sehat lagi, mengulang kisah sehat saat gue sekolah 2006-2007 dimana gue naek sepeda ontel merek Gazelle sejauh 20 KM pulang balik total 40 KM. tapi
sekarang mah agak ajaib juga kalo mengulang pola seperti itu. Faktor cuaca dan kondisi jalan yang tidak bersahabat. Juga harga sepeda yang makin anjrit, sejak dulu gue beli sepeda Federal.

Kembali ke nasib sang sepeda. Sepeda itu begitu menawan. Harganya yang nggak menawan. Ia adalah Oyama folding bike ban 16 inchi. Sepeda lipat yang praktis. Karena empunya sepeda seorang maniak, maka ia sudah bertahtakan aksesoris yang satuannya mahal bener: lampu gres depan belakang, shockbreaker, sepasang tanduk, ban radial besar, pelapis kabel dan rantai, dua buah bel antik, dan sebagainya.

“Hmm liat minggu depan deh. Gue pengen banget, tapi liat dapet rejeki nggak ya gue minggu depan.” Sejak itu sang Oyama makin kebayang di kepala.

Sebuah telepon tengah malem kepada sahabat yang udah dua tahun naek sepeda kemana-mana.

“Gimana menurut lo men?” konsultasi panjang lebar. Dengan kesimpulan yang makin meyakinkan gue.

Sayangnya transaksi gagal terjadi karena gue gak sanggup nebus harga anjrit itu. Rejeki gue nggak mungkin gue spend semua. Kan gue butuh simpenan buat persiapan ini itu tahun depan.

Hingga suatu saat,

“Lo aja deh yang bayarin sepeda gue, gue nggak terlalu suka ama yang mau beli. Kalo elu yang beli gue rela. Kan elu suka barang yang aneh bin unik.” Sang abang senior menelepon.

“Hmmm harganya turun jadi menarik. Tapi masih anjrit. Dua kali bayar ya bang?”

“sip!”

Suatu malam setelah barang berpindah juragan, dan tekad hidup sehat -ditengah-kepungan-godaan-kolesterol-dan-nikotin- menguat. Gua musti bike to work alias naek sepeda ke kantor. Penasaran, kayaknya sih bisa.

Obrolan via telepon, kembali kepada sang sahabat yang penggowes sepeda senior.

“Wah ada tuh komunitasnya. Hubungin aja, nih gue ada nomor hapenya. Kemaren gue baru kenalan, ada robek, rombongan bekasi, jalurnya lewat kalimalang.“

“Kalo ke kantor kan elu semangat kalo naek sepedanya bareng-bareng jadi seru dan nggak capek. Ada yang memotivasi, kalo keserempet bus kan nggak bakalan kapok.”

Singkat cerita, berhasil kontak-kontakan dengan salah satu member, Oom Ram. Kok Oom? apakah pada tua-tua semua? Hehehe, ternyata komunitas bike to work itu punya sapaan khas. Kalo komunitas biker motor kan panggilannya ‘bro’. nah kalo bike to work itu panggilan tua muda ya ‘Oom’ dan ‘Tante’ hehehehe. Seru juga.

FYI, jarak yang memisahkan rumah gue dan kantor tercinta adalah 15 KM. Takaran didapat dari temen yang ahli ukur jarak.

Hari perdana gowes sepeda, gue bangun pagi. Kumpul di halte Giant pondok kelapa. Jam 6 udah kumpul deh sekitar 30 an Oom2 dan Tante2 bike to work rombongan bekasi. Ternyata banyak yang rumahnya lebih jauh dari gue, macam di Narogong, dan tujuannya lebih jauh dari gue. Sudirman, Majapahit, Grogol, bahkan ada yang ke Priok. Gile.

Setelah kenalan perdana, ditambah pagi itu ada yang bawa kue buat sarapan bersama, wah seru neh komunitas. Mereka hadir dari berbagai profesi. Kalo yang orang Bank biasanya ngebut cepet, karena Bank buka pagi jam 7 hehehe.

Jam 6.30 kita jalan menyusuri kalimalang. Eh cepet lho. jam 7.10 udah sampe aja di meeting point carrefour cawang. terus kenalan lagi sama om dan tante lainnya. dan tak terasa kantor di subroto sudah didepan mata. jam 7.30 sudah memasuki pekarangan gedung.

Saat itu juga manager gedung menegur sopan, gue baru tahu kalo sepeda nggak boleh lewat lift. heheheh. maklum nubie.

Lipet sepeda di kolong meja, terus mandi mandi di shower. Syegar, terus dengan bangga pamer kalo gue sampe dengan selamat ke si assignment editor yang kemaren nyela-nyela, "Mana mungkin rumah lo jauh begitu, lo bakalan sampe. Jalanan ribet kayak gitu, mo ngantor jam berapa lo?" hehehe... doi terkesima. terus memotivasi beberapa teman yang penasaran denger cerita perdana gue. pada kaget kalo ternyata ada komunitas jalan barengnya. apalagi yang didepok juga terkesima karena ada rombongan depok juga.

Rekan kerja sekiri-kanan kubikel pada ngakak semua ngeliat foto di MP. Foto perdana gowes ke kantornya ada yang mengabadikan. Langsung gue taro jadi wallpaper hehehe. Terkesima neh... badan saya yang segede itu nyampe juga ke kantor pake sepeda lipet imut.

Efek keduanya yah, makan dan ngerokok tanpa rasa bersalah hehehe...


Malamnya setelah kelar meeting dengan bos jam 10 malem, dengan nekad nggak mau naro itu sepeda lipet di bagasi mobil temen yang pulang lembur dari Kemang. Pengen ngetes pulang malem pake seli (sepeda lipet). Yo wis, nekad ah, nyalain lampu, mulai deh gowes sendirian.

Eh sampe rumah juga lho. meski catatan waktunya agak molor. 80 menit lah sampe rumah... kalo paginya kan 40 menit bersih. mungkin yang agak salah gara-gara nekat tetep mau pake jins nggak mau ganti celana lagi.

Ah tapi naik sepeda memang nikmat...

wah tak sabar untuk trip berikutnya....

“I want to ride my bycle…”

-sayup-sayup suara MP3 Queen dari meja depan-








yang gemuk-gemuk foto dulu












halte robek, depan giant pondok kelapa













meeting point kedua, depan carrefour cawang















kite liat rupa gue sesudah 3 bulan


gowes perdana dapat dilihat videonya di sini

Monday, October 27, 2008

Percakapan bodoh suatu sore di sebuah cafe








The morning show producer - You know what we should do? We should leave, together.

The senior cameraperson - Leave? What do you mean leave?

The morning show producer - Leave this company, together, I mean all of us, the whole package, then come to other news station as a package. We are practically every single one you need to run a news channel, right? We’ve got you, the senior cameraperson, your portfolio will make any TV station drool over. We’ve got you, the talented news anchor who got his company won many awards in a year. We’ve got you, the young talkshow producer, who can get almost any important guest appeared in our show. We’ve got you, the assignment producer, who always accomplished any impossible or ridiculous assignment…

The graphic producer - And where do I fit in this?

The morning show producer - We’ve got the one workaholic bastard who’s so high on his job he would stay up at this office until 3 in the morning thinking of how the visual look of this channel.

Everyone - Hahahahaha!

The graphic producer - (still laughing his ass off) You’re funny.

The morning show producer - And we’re all funny.

The field producer - (coming over to the table) Hey, sorry I’m late. You know how that live report can go… Anyway, remind me, why are we meeting here again?

The morning show producer - exactly why we all should move to another TV station which - with all the things that we have to offer - will pay us at least twice.

The news anchor - That won’t help us, you know, spending-wise. As the number of your disposable income increase, your needs and spending habit will also multiply exponentially.

The morning show producer - We’re practically a dream team here on the table.

The field producer - (stirring her coffee) What is this thing about the dream team?

The talkshow producer - Our friend here thinks that we should form a team and leave the company together.

The field producer - Leave? Where?

The morning show producer - Anywhere. As a whole package. We deal - you know, the remuneration package, the whole shindig - as a team. It’s like pay up this much and you’ll get a whole package. The best talents nurtured by the best TV station.

The field producer - Is that even doable?

The news anchor - I think I’ve read about it somewhere. A whole team of engineers moving from one oil company to the next.

The assignment producer - Anyway, which TV station do you have in mind particularly?

The morning show producer - ****, ***, and *******

The field producer - The first two sound about right, but ******* treats people like shit.

The morning show producer - How do you know?

The field producer - I have a friend who’s a human resource specialist, he knows every HR practice in every TV company in this country.

The news anchor - As long as we’re talking about what kind remuneration package we want, I’m gonna throw in: better car.

The assignment producer - What? What is that gonna do you? You don’t even drive.

The news anchor: I don’t drive but I use the car, right?

The field producer - You know what I want? Fashion allowance.

The senior cameraperson - Here here!

The graphic producer - What the hell are you talking about? Fashion allowance?

The field producer - Extra allowance in our monthly salary to get the best fashion items, to maintain our looks, you know. Shoes, bags…

The graphic producer - Hahaha, that’s gonna kill the whole deal right there. No company is stupid enough to grant people like us something as extravagant as the so-called fashion allowance.

The field producer - I’m serious. The other day, I busted my high heels on Parliament building. I think I should deserve some kind of compensation, don’t you think?

The morning show producer - Yeah, good luck with that.

The senior cameraperson - Whatever, man, as long as there is no stupid uniform policy.

The assignment producer - Unlimited Blackberry and phone bill would be nice.

The talkshow producer - What’s wrong with the one you have now?

The assignment producer - The 300 a month crap? I spent at least three times as much each month!

The field producer - Maybe if you weren’t using it to sweet-talk every girl in our office …

The assignment producer - Getting jealous, are we?

The field producer - Hahaha, you wish!

The news anchor - (to the morning show producer) Why are you so quiet all of a sudden?

The talkshow producer - And what is that you’re writing on that stupid napkin?

The morning show producer - (smiling ear to ear) Our minutes of meeting. The list of remuneration package that we’re gonna ask from **** and *******.

The assignment producer: On that? You’re gonna hand our dealing points on a piece of napkin?

Everyone - Hahahahaha!



*Dicontek dari blognya ika natassa

Saturday, September 13, 2008

a cup of mocca latte, zip it slowly

Another task accomplished. Sebuah pekerjaan khusus yang membuat gue hampir sakit jiwa temporer. Kalau tidak ada sokongan dari kawan-kawan sejawat yang asyik-asyik, tiap malam bawaannya mau ngedraft surat resign dan ngisi formulir lamaran PNS PT Pegadaian. Hehehe. Terima kasih kawans, kalian penghilang stress nomor satu memang.

Sebuah talkshow khusus 13 episode dengan 91 narasumber maha penting yang harus rampung dalam 4 minggu tanpa jeda. Sebuah kerja marathon penuh riset, lobi, desain produksi, desain teknis, dan perjuangan melelahkan lainnya baik fisik maupun mental. Menghabiskan 5 slop rokok, 5 galon kopi hitam, 5 krat vitamin C UC 1000, 5 box madurasa, dan sebotol sabun cair untuk mandi di shower kantor.

Sebagai seorang bujangan, perayaan paling enak dari penyelesaian sebuah tugas adalah: tengah malam buta bersama satu brown bag besar berisi American junk food full cholesterol, sofa malas, dan menonton kembali HBO yang menayangkan ‘Any Given Sunday’. Kemewahan sederhana yang rasanya setara dengan menghabiskan 2 gelas kopi dengan seorang wanita cantik. Sudah 4 minggu ritual terakhir ini sempat hilang.

Keesokan harinya bangun siang. Sebuah kemewahan, setelah empat minggu rodi dari jam 9 pagi hingga jam 3 pagi dini hari tanpa jeda libur sama sekali.

Lanjut masih harus masuk kantor untuk urusan administrasi, tanda tangan-tanda tangan yang terbengkalai. 2 hari seperti itu, dilakoni dengan kabur cepat dari kantor, dan akhirnya bisa hang out untuk beberapa meeting yang tertunda.

Hari libur tiba. Cuma dikasih jatah 2 hari dari 8 hari libur. Bangun tidur langsung bikin appointment with my fave barber. Program show ini membuat rambut gue cepet banget gondrong. Penampilan rapih, lanjut relaksasi ke ZEN. Jurus-jurus massage sang therapist membuat gue bugar kembali. Lanjut bobo-bobo santai sembari nonton tumpukan DVD di rumah.

Malamnya bikin senang orangtua gue, dengan menyambangi sembari membawa 3 bungkus ukuran jumbo Chinese food favorit mereka. Lanjut malamnya khusyu menulis manuscript gue yang belum kelar. Tinggal editing aja sebelum dibawa ke penerbit yang sudah antusias.

Lanjut tidur. Hehehe. Terus sore-sore bangun deh dandan. Shaving dan aftershave juga wajib. Kan nggak boleh tampil lusuh di depan wanita cantik. Undangan buka puasa bersama sudah membludak. Gue sempatin hadir di semuanya, namun susah juga karena tergantung stamina, jadi gue datengin yang gue udah komitmen duluan.

Badan masih kendor, otot sudah tidak sempat dilatih ke gym 4 minggu ini. Bulan puasa juga tidak kondusif untuk olah bugar. Jadinya istirahat penuh saja me-recharge stamina yang terkuras. Waktu luang sangat mewah sekali akhir-akhir ini, digunakan semaksimal mungkin untuk membaca beberapa buku-buku to feed my brain.

Saat ini: browsing-browsing nggak penting, update-update situs-situs pergaulan sosial, milis, blog, dan tentu saja chatting dengan beberapa teman. Menyusun rencana untuk menggunakan sisa jatah libur di sebuah resort indah di Berau jatah teman yang sedang riset lapangan.

Advice of the day, “Enjoy your leisure time while it last, buddy.”

Mengenai acara tersebut, bisa didownload di sini .

keterangan foto di atas, semua bermula di meja ini: data kontak dan schedule narasumber, tumpukan data riset dari berbagai instansi yang musti diolah, post it berisi telepon-telepon yang masuk dari berbagai humas, ajudan, sespri, dsb. Bungkusan makanan penahan lapar, charger handphone yang tidak boleh mati Karena terus menerus berdering, gelas kopi, staples andalan, wallpaper gambar Al Gore pembangkit semangat, tumpukan data yang terus menggunung tiada henti, buku-buku referensi: Memoar Abdul Rahman Saleh, Janji SBY, memoar Dino Patti Djalal, buku Bappenas, report Departemen PU, report Departemen Keuangan, dsb. Map clipboard biru andalan berisi rundown yang terus diupdate, sebotol vitamin, dan jaket tebal penahan AC yang dingin.










Saturday, August 16, 2008

Kenapa ya gue selalu terlibat beginian?

Dari dulu emang gue tau gue dikutuk untuk hidup tidak normal. Jalan hidup, karir dan masa depan musti dilalui dengan pola sedikit luar biasa. Kadang gue berharap untuk beberapa saat aja gue bisa hidup normal.

Nah kejadian lagi deh neh, duh semoga aja semua cepet beres dan cepet kelar. Dengan hasil yang bagus juga. Kadang gue curhat ke kolega kantor seperti tadi malam (tadi pagi buta sih tepatnya, saat tinggal 2-3 manusia
malang tersisa di ruangan) kenapa gue, kenapa gue, kayak nggak ada orang lain aja buat dijadiin tumbal ngerjain proyek beginian. Cari kek yang lebih senior atau kerjain keroyokan tim. Bisa jadi ini kepercayaan, bisa jadi nggak ada yang mau disuruh ngurusin beginian (that’s make me typical Michael Clayton)

Gue bangun kaki senut-senut, petanda tak sehat. Apakah kolesterol? Gue ingat minggu ini gue cuma makan paru-paru binatang dan emping melinjo, sebenarnya normal tapi mungkin karena sudah 2 minggu gue cuma sempat nge-gym sekali doang, itu pun tread mill buat jaga kondisi stamina, nggak sempat bench press.
Sisanya rodi di kantor ditambah kandungan nikotin dan kafein (kopi dan suplemen) yang cukup tinggi. Tingkat stress juga sedang tinggi sekali.

Dulu banget gue pernah bilang ama OB di kantor yang suka nawarin kopi malem-malem, tapi gue nolak. Gue bilang gue cuma minum kopi di kantor kalo udah stress banget di tempat kerja. Gue selalu minum air putih atau teh. Hanya segelas kopi susu untuk pembuka mata pagi hari. Sudah dua hari ini malem-malem menjelang pagi gue ngaduk sendiri segelas gede kopi hitam.


Inilah yang menyebabkan hari ini gue sempetin ngabur ke gym sejam terus ke giant mengisi keranjang belanja dengan yang sehat-sehat, vitamin c dosis tinggi, madu ginseng, jambu klutuk dan pisang. Semoga bisa membuat badan tetep kokoh hingga rodi gue kelar 3 minggu lagi.


Bukan gue doang yang curhat, di smoke chamber pantry room at the office, semua curhat juga. Tadi pagi juga ada rekan binyo yang nelpon bangunin gue sekedar curhat panjang.
Tapi, memang kondisi saling mendukung itu yang mahal dan bikin lo betah. Stress berat elu bisa hilang. Kemarin kemampuan gue sebagai aktor watak sempat hilang, muke gue terlihat kusut. Sampai seorang presenter menghibur gue (biasanya gue yang menghibur dia, memupuk rasa pede dia) katanya, kalo gue sampai nggak bisa senyum dan stress begitu, gimana dia. Ah itu sungguh membangkitkan secercah semangat. Belum lagi ditambah lawakan salah seorang produser dodol yang kalau stress seru banget, lumayan menghibur. Juga seorang produser sport yang gayanya cuek katro tapi sebenarnya kaya dengan nasihat bijaksana.

Gue sempat kabur sebentar tadi malam, dijemput sohib gue. Sang 2300 US$/month lawyer, kita kumpul-kumpul sejenak menghisap sisha di menteng, bersantai menghisap asap tebal rasa buah sembari melirik cewek-cewek pesisir timur tengah. He’s not happy with his job. Stress juga. Dia bilang kadang dia ngamuk-ngamuk malam-malam menyadari kenapa dia harus lakukan ini itu, yang menghibur dia adalah, dia dibayar mahal untuk itu. Nah kalo gue? Hehehe.


Dua sohib gue bergabung juga, seorang rising star di deplu, a chievening scholar and also fullbright scholar yang bentar lagi mau posting.
Ditambah seorang gendut aktivis NGO yang akan berangkat menimba ilmu di negeri orang.

Nah, hasil dari kabur sebentar sebelum balik lagi rodi di kantor yah, kesimpulannya kadang kita suka merasa stress berat akan beban kita, namun itu manusiawi. Jalan satu-satunya adalah seperti kata tokoh Nigel dalam Devil wears Prada, “Lo tuh harus ingat, masih banyak sekali orang-orang tidak beruntung di jalanan sana yang rela bunuh-bunuhan buat mendapatkan posisi seperti elu.” Nggak segitunya sih, lagian gue tuh siapa juga.


Udah ah kerja lagi, di luar entah udah berapa kali matahari terbit tenggelam.

Sunday, July 20, 2008

Me, Myself and the Office

Ketiga kalinya ngumpul bareng sobat-sobat lama. Update info, ngobrol ngalor-ngidul dari yang ringan (macam anak udah berapa) sampai yang super mengawang-ngawang (macam kapan kita wisata pake cruise boat). Terus tukar menukar kartu nama, berlanjut obrolan standar soal tempat kerja saat ini.

Sudah lama sekali gue tidak cerita di blog ini soal tempat kerja baru gue. Well, tak terasa sudah hampir 4 bulan gue bekerja di tempat ini. Sudah selesai probation dan jadi pegawai tetap.

Kerjanya berat, tekanan beban kerja lumayan sangar. Tapi di tempat ini, rekan sejawatnya asyik-asyik, seru-seru. Sangat helpful dan kooperatif. Suasana kerja yang kondusif banget, jadi masih bisa ketawa-ketiwi. Mungkin karena rekan sejawatnya rata-rata muda-muda sebaya, yah jarak usianya nggak jomplang banget, kecuali dengan keempat bos-bos nya. Sejauh ini, gampang sekali kenal dengan semua awak kantor, mungkin karena kurang dari 100 orang, beda jauh dengan kantor lama yang ribuan. Ilmu juga makin nambah, karena banyak sekali berkeliaran orang-orang yang rada jago disini, dan tak pelit ilmu jika ditanya mulai yang sepele hingga yang rada ribet. Kalo lagi stress berat, ada aja cara dimana beban bisa dibawa ketawa bareng sehingga seolah ringan.

Lokasi kantornya lumayan strategis, lebih dekat ke rumah. Parkir kendaraannya masih gratis mirip kantor lama. Di meja ada LCD monitor dengan akses internet broadband supercepat, nggak lelet kayak di kantor lama. Punya akses langganan ke semua database digital sehingga memudahkan riset. Youtube, facebook, multiply dan YM tidak diblokir. Yaay! Ada budget tanpa birokrasi bertele-tele untuk segala keperluan. Punya langganan 5 jenis surat kabar dan majalah Tempo juga Time. Jadi tidak perlu beli koran sendiri selain langganan di rumah. Jendelanya panoramic view ke gedung-gedung tengah kota, lumayan seru. Oh iya, ini kantor pertama yang ada OB-nya bagi gue. Baru pertama kali merasakan ada bantuan jika tidak punya waktu untuk beli makan siang, rokok dan sejenisnya. Yah sepadan lah dengan pressure kerjanya.

Ini juga, setelah 4 tahun, gue merasakan nikmatnya kerja tanpa seragam. Jadi kalo ada janji meeting atau kencan pulang kantor, lebih merdeka, tidak perlu menyembunyikan logo dibalik jaket. Ah enaknya leher tidak tercekik simpul dasi.


Soal bayaran lumayan ada peningkatan signifikan. Gue teringat, pernah dulu banget gue abis lulus kuliah, sempat kerja dengan bayaran yang bahkan tidak cukup untuk gue sendiri. Trus, kalo di kantor sebelumnya gue harus maksain nabung meski ngepas, kini lumayanlah, sudah bisa nabung teratur rada banyak. Bisa ngasih lebih banyakan ke kedua orang tua. Udah bisa naro uang dikit-dikit buat modal kawin, buat membesarkan usaha peternakan ikan Gurame gue, juga buat tabungan rencana masa depan. Gue rencana mau pensiun dini, umur 38 kalo bisa nggak kerja lagi. Udah dapat kebebasan finansial. Pinginnya ngelola kafe aja atau backpacking keliling-keliling.


Soal hiburan, kantor ini memberikan akses gratis saluran televisi kabel di rumah karyawannya. Lumayan, gue bisa meneruskan
gaya hidup nonton HBO model di Belanda dulu.

Gue udah bisa pindah tempat fitness, dari yang dulu isinya atlet nasional melulu yang bikin minder, ke tempat yang banyak ABG, esmud dan ibu-ibunya. Yah at least tempat lebih nyaman, lebih deket ke rumah, fasilitas alatnya lengkap standar internasional, selain angkat besi termasuk jadi rajin cardio dan sauna. Gue sempet-sempetin nge-gym rutin biar nggak gampang sakit. Soalnya waktu kerja masih jam abnormal, penuh diiringi aktivitas merokok saat memeras otak, plus makan makanan penuh cholesterol macam tongseng dan sejenisnya. Model hidup gue yang pulang kantor kadang masih disambung juga kongkow-kongkow malem di luar. Entah itu diskusi dengan kawan atau ngobrolin proyek masa depan. Jadi kudu punya stamina ekstra yang kudu ditopang lebih, dari sekedar Hemaviton energi jreng.


Di kulkas tiap bulan ada persediaan madurasa, UC1000, pisang Cavendish untuk diblender dengan protein shake. Resep sehat jaga stamina.


Sesekali sekarang gue juga udah bisa datang ke tempat spa, sauna, dan steam untuk perawatan tubuh. Lalu pijat relaksasi dengan therapist, meski masih suka menjerit tidak tahan kalo di shiatsu. Tidak hanya fisik, otak juga perlu exercise, kini Alhamdulillah budget belanja buku bulanan gue bisa nambah.


*picture was taken after having a delicious big plate of daeng's ribs at ampera