“Once upon a time, not so long ago in a not so far away, in a low-lying land called Koninkrijk der Nederlanden, I first met this guy. Surely that night will not be forgotten because in that premiere occasion he was asking permission to use the toilet in my apartment to puke. Masuk angin. Hehehe, he was confident that he can hang out in my balcony smoking kretek without proper jacket and underestimate the cruel Dutch windy weather. (Sorry mbul, it’s not afdhol if I’m not opening the story without reveal your aib :p)
Mbul was a jomblo by demand back then, because there were no demands at all. He was a PhD student in the perils of procrastination, conducting research in sustainable development issue and also in search for his lost rib. But he wasn’t a lonely guy he had many female companions, Indonesian and internationals, most of them found such a comfort to curhat session with him. Maybe because this matures yet funny guy is such a kebapakan. Peace bro.
Anyway, Plato once said that God originally created human as a hermaphrodite, then turn out that human was so perfect that God decide to split it apart. Faith decides that both parts eagerly look for each other to achieve perfectness. That perfectness finally came. Those imperfect blend in the keyword ‘high’. The lost rib was located in a high valley known as Bandung, a high quality mojang named Mbil. She was originated from highland called Salatiga, while the other part is doing higher education in a country that people can easily get high. They squeezed the long distance by high speed bandwidth. High five.
One part is a newly establish-self proclaimed best selling book co-author, while the other part is an enthusiastic professional book translator for a living. Both are addictive to books. He read Khaled Hosseini and she translated it. I love to imagine both read Hosseini books together in a comfy couch. When I first introduced to Mbil by Mbul, I knew at first sight that both are finally found their own version of what Khaled Hosseini once wrote, “…the noor of my eyes and the sultan of my heart.”
(wahyuningrat, eligible bachelor, satisfaction guaranteed by mbul)
further more check what they say: two birds in a coffee orchard
Tuesday, September 14, 2010
a piece for my best friend's wedding
Diposting oleh wahyuningrat di 9/14/2010 09:42:00 PM 0 komentar
Label: kawan-kawan, love, romance, tulisan, wedding
Saturday, August 21, 2010
How Do I Met Your Mother :)
gue ketemu dia di suatu meeting santai, dia datang karena ada urusan dengan salah satu kolega.
sepertinya gue sudah terpikat. hehehe.
beberapa bulan berlalu.
kedua kalinya gue ketemu di suatu resepsi. rasa ser ser ser mulai muncul pas gue kembali menyapanya di parkiran.
beberapa bulan kembali berlalu.
ada kawan yang punya niat tulus mempertemukan kita berdua.
saat itu mulai ada dorongan. meski butuh seminggu kemudian untuk gue memantapkan diri ambil posisi maju menyerang.
she's different than other. something special that I cannot describe. the only thing that I can tell she can make the butterflies appears again in my stomach. ouch.
kencan pertama sempat membuat gue tertegun. lalu rasa tertegun itu beralih ke terpesona. lalu terpesona beralih ke terpikat.
pertemuan kedua ketiga keempat. sukar dikatakan, tapi she gives a huge amount of positive impact to my life. religiously. meski mungkin ia tidak tahu hal itu.
saat ini ditulis gue lagi berusaha untuk kencan kelima. jalannya lebih sukar. tapi Gibran berkata jika cinta menghampiri, maka gapailah ia meski jalannya sukar dan terjal.
saat ini ditulis, sudah 2 bulan hal ini terjadi. mungkin ada yang bilang ah baru 2 bulan. tapi apa daya, rasanya kok seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun.
malam ini baru selesai meneleponnya, dia baru cerita bebannya lagi begitu berat. gue cuma bisa membantu meringankan bebannya. at least semampu gue. semoga bisa.
gue berdoa, agar yang kuasa memberikan sedikit space dalam hidupnya agar ada kesempatan bagi gue mendekat. gue adalah sebuah flashdisk yang berharap ada celah space dalam harddrive-nya yang padat.
bagaimana perasaan gue kepadanya? well, kalau setiap text message darinya kok ya bisa membuat gue susah tidur, dalam arti positif. rasanya seperti melayang ke langit ketujuh. rasa ini pasti spesial.
is she the one? well I think she's the one.
hopefully.
Diposting oleh wahyuningrat di 8/21/2010 11:35:00 PM 0 komentar
Label: love
Monday, June 21, 2010
my, myself and wedding invitation (again)
Malam-malam buta masih beredar. Bersama dua orang teman, kita sedang menyantap gurihnya mie aceh dan roti cane meuthia. Kami menunggu selesainya proses finishing ratusan undangan pernikahan.
Salah satu sobat kebetulan meminta hadiah spesial. Dibuatkan undangan pernikahan khusus oleh saya. Hmmm, sejak 2007 saya sudah tidak mau menerima request semacam itu. Sudah mulai berat rasanya. :) Tapi kalo kawan dekat yang meminta ya apa boleh buat, tentu suatu kehormatan yang tak kuasa ditolak. Semoga hadiah ini membuat senang dan membuat makin langgeng. Gitu deh kira-kira.
Terakhir, tahun 2007 di sebuah negeri yang dingin menusuk, saya, karena sudah janji, tetap mendesain dan memantau proses pembuatan sebuah undangan untuk karib saya. Kepinginnya sih itu yang terakhir, yang selanjutnya ya mendesain milik sendiri.
Nah sejak 2007, seorang karib juga sempat pula meminta, dan saat itu saya juga kembali bersedia, mengingat ini salah satu kawan seperjuangan dari dulu. Saya kira itu yang terakhir.
Kini, untuk sohib saya ini, sebuah undangan dengan desain kontemporer sesuai permintaan, selesai matang dari komputer saya, langsung kita bawa ke tukang cetak, lanjut ke tukang potong, dan langsung di finishing laminating dove dan rel lipatan. Terus belanja plastik pembungkus dan label sesuai ukuran. Selesai semuanya tengah malam diakhiri sembari ketawa-ketawa menyeruput kopi tiam.
Keesokan harinya sebuah website pernikahan untuk menaruh komen, rampung juga saya desain untuknya. Sang bakal calon mempelai tersenyum puas bin girang. Ah senang melihat ekspresi puas itu.
Dua hari kemudian, masuk email, ini dari kawan susah senang jaman di rantau, “Bisa tolongin gue dengan undangan pernikahan nggak?” hehehehe, diri ini tentu tak kuasa menolak.
Undangan pernikahan adalah sebuah proses kreatif yang menarik bagi saya, dan rasa senang kedua mempelai itu juga merupakan berkah tersendiri di mata saya. Hehehe, harapannya sih kebagian berkahnya. Amien.
Well, I do hope that the next one is mine. Amien juga.
Diposting oleh wahyuningrat di 6/21/2010 11:49:00 PM 1 komentar
Label: kawan-kawan, love, romance, wedding
Tuesday, February 17, 2009
What a ‘Love’ ly Week
Pernahkah kamu begitu mencintai seseorang, sehingga menggunakan segala keahlian investigasi kamu, untuk mengetahui semua rekam jejak pria yang bersamanya sejak setelahmu?
Seorang teman yang gampang tersentuh, terkesima dengan pengakuan seorang wanita penghibur. Begitu ibanya ia sehingga ingin menolongnya. Hingga suatu saat, sadar bahwa semua itu hanya template, setelah melihat orang lain terkena jurus serupa. Lalu menyaksikan dengan kepala sendiri, wujud binal asli sang aktris watak profesional.
Rekan sekerja meja sebelah, mengeluh tidak punya waktu untuk romansa. Aku teringat ucapan bijak tokoh Nigel dalam Devil wears Prada, that’s what happen when you’re doin great at work.
Kawan wanitaku menelpon mengganggu tidurku untuk kesekian kalinya. Dengan sabar kudengarkannya termehek-mehek. Berat rasanya jatuh cinta mati dengan seorang pria berkeluarga. Seorang tokoh masyarakat pula.
Ketika sedang memilih buku untuk riset kerjaan kantor, sebuah cover novel menyita perhatian, bunyinya: bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.
Diposting oleh wahyuningrat di 2/17/2009 11:02:00 PM 3 komentar
Label: love
Monday, January 12, 2009
Ex
Acara pernikahan yang megah. Ballroom sebuah hotel bilangan Subroto.
Si dia berdiri anggun di pelaminan. Ia begitu indah bak bidadari. Alasan untuk datang, tapi lebih banyak juga alasan untuk tidak datang.
Menyalami mempelai wanita. Saat sun pipi, si dia berbisik di kuping, “Datang sendiri? Mau sampai kapan begini?” sindiran kejam. Seperti tidak cukup siksa batin dibuatnya. Pasang saja senyum terkekeh, sembari manggut-manggut.
Menyalami mempelai pria. Memeluk sembari menepuk bahu. Pertemuan dua sobat lama satu kos-kos an jaman susah dulu. Kali ini pria beruntung ini yang berbisik, “Sorry man, I’ve got her.” Duh. Kembali pasang muke pemain Poker profesional. Disambung senyum lebar Jerry Maguire, “Kalo untuk elo gue rela kok.”
Turun pelaminan, muter-muter gubuk. Nggak nafsu makan, tapi iseng ngantri Martabak Kubang.
Di pojokan, maksudnya mau menyendiri, ketemu siksaan lagi. Seseorang, dari masa lalu juga, menghampiri. Peluk hangat, kembali kulayani dengan senyum lebar dipaksa.
Lagi, dialog serupa diulang, “Kapan giliran mu? Ayo dong sebelum aku hamil lagi.” Mata hanya menatap anak kecil berumur 2 tahun yang bergerak lucu di sebelahnya. Ah, manisnya, kalo sama gue pasti jadinya lebih manis lagi itu bocah. Khayalan seandainya seandainya mulai terskenario di alam bawah sadar. Seakan tak rela.
Menoleh ke ibunya si anak kecil, “So tell me again, why we broke up three years ago?”
Ibunya nyengir, “You already knew the reason.” Kami terkekeh. Tapi mulut yang ini terkekeh getir.
Si anak lucu menghampiri Ayahnya yang mendekat datang ke arah kami. Kembali aku bersalaman. Makin keren aja ini orang. Bankir muda. Pasang senyum aktor watak, sembari kalkulasi liar. Orang seperti gue kerja sampe pagi, mempercayakan uangnya ke bankir macam dia, lalu bankir mengelolanya dan mengeruk keuntungan berlipat, sementara gue tetap banting tulang. Lalu sang bankir menikahi wanita gue. Banker always win, begitu kalo di film Casino.
Menyingkir dari keduanya, dengan alasan ambil minum. Menatap ke pelaminan, kedua mempelai tersenyum cerah berbahagia, sembari melakukan ritual salaman dengan antrian tamu. Mulai deh mengkhayal lagi.
Lagi asyik mimpi, ditepuk beberapa teman.
“Si anu mana? Kok nggak bareng si anu?” demikian sapa mereka. Belum sempat menjawab,
“Eh itu si anu bukan ya, kok datengnya nggak sama lo?” salah satu dari mereka menunjuk ke arah sepasang yang baru masuk aula.
Memang yang baru datang itu dia. Kok bisa ketemu disini juga. Aku menatapnya. Kenapa semua yang lepas dari genggaman terlihat sangat indah?
Dari kejauhan kedua tatap mata kami bertemu. Sorotnya dingin, semakin menggandeng erat pria disampingnya.
Sudah cukup. Saatnya untuk pulang.
*cerita ini hanya fiksi, seperti cerita-cerita lain.
Diposting oleh wahyuningrat di 1/12/2009 12:20:00 AM 2 komentar
Sunday, April 06, 2008
A Perfect Proposal
Venue : Secret place somewhere in
Time :
Rundown :
Two weeks before D-day I suddenly cancel all dates that I already promised her.
To get more heating temperature, I will pretend very-very busy that I even cannot pick her up after office. Including stop visiting her during the weekend.
All of her gang member -coordinate by her best friend- will ask her to hang out at the secret place in
Suddenly I appear on that secret place along with my buddies. All of us pretend it just a coincidence. We hang out together on one big table. I know she’s still mad at me, but we all know she will pretend nothing happened in the crowd, especially in friendly circle.
Someone then mysteriously play the piano on the corner stage. An intro from Yovie & Nuno song, “Janji Suci.” It will be a dark lighting on the stage, so nobody knows who the pianist is.
I will walk to the stage and grab the mike. Everybody, especially her, look surprise, they knew I can not sing. Singing was not that fun for me, even at Inul Vizta.
I will sing a few lyric of that song, thanks for the quick tutorial from my best buddy.
Dengarkanlah, wanita pujaanku. Malam ini akan kusampaikan.
Hasrat suci, kepadamu dewiku. Dengarkanlah kesungguhan ini…
Enough, it is not my aim to torture anyone that night. The surprise will begin. Stage lighting turns bright. Suddenly her all time favorite Band, Yovie & Nuno surprisingly appears on stage. They continue that song,
Aku ingin mempersuntingmu. Tuk yang pertama dan terakhir. Jangan kau tolak dan buat ku hancur. Ku tak akan mengulang tuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini. Akulah yang terbaik untukmu.
Everybody including our friends screaming for that surprise. For that purpose, only two friends of mine knew that Yovie & Nuno will come.
After that song, I approach her, look at her in the eyes and pop up the question. Once again, to create a romantic ambience, some friends have no idea about this following sequence, so we can get a spontaneous shriek of astonishment effect.
“I promise you I would give you the world, or die trying to.” [I know, I know, it’s a gombal line, but I think it will work as an opening before I pop up the question]
“I still mad at you” [she will reply]
“Well, uhm. I did bring Yovie & Nuno.” [We take a glance to the stage. Yovie, the pianist, salute to us]
[She shall start smiling, and laughing. You know she looks amazing when smiling. That will be a perfect moment to pop up the question]
It will be a perfect night. Thank you very much to her best friend who help me book the venue and coordinate the girls. My best buddy who give best effort to bring Yovie & Nuno only to sing one song that night.
“Honey”
“Yes?”
“Would you mind pay the bill tonight? Those Yovie & Nuno things makes me broke.”
Diposting oleh wahyuningrat di 4/06/2008 09:15:00 PM 1 komentar
Label: love


