Saturday, February 17, 2007

what next?



Itu terlontar begitu saja dari salah seorang narasumber saya. Saat itu kami sedang berbincang-bincang di green room, ruang tunggu sebelum mulai siaran todays dialogue. Narasumber, yang seorang doktor pengamat hukum muda dari universitas gajah mada, melontarkan pertanyaan itu, sebagai respon kala saya mengabarkan padanya bahwa saya mendapat beasiswa ke belanda.

Kalimat yang sama terlontar juga dari kolega saya, seorang redaktur senior tabloid ekonomi di Jakarta, saya mengutarakan kabar yang sama disela-sela saya membrief dia apa materi yang akan kita fokuskan sebelum mulai rekaman. Saat itu kami sedang bersiap untuk wawancara ekslusif seorang ibu menteri yang kontroversial, yang saat itu masih berkantor di sekitar taman suropati.

Kini kalimat yang sama kembali mengusik saya, saat berbincang via YM dengan kawan saya, seorang jurnalis muda di sebuah majalah terkemuka nomor dua di tanah air. Dulu dia menyemangati saya setiap saya stress dan sering mengobrol dengannya, dini hari di teras kantornya di kalibata. Saat saya baru pulang kantor dan dia sedang berkutat dengan deadline.

Yang pasti, harus balik dulu ke tempat asal muasal sebelum ke belanda. Toh sekeruh apa pun kubangan kita, tentu kita harus kembali menceburkan diri kesana. *iya kalo kita kebo, bukan manusia*

Kali ini saya mengajak anda melihat beberapa karyaku, yang lahir di sela-sela kesibukan.



Undangan untuk rekan saya seorang video editor muda yang menikahi seorang make up artist untuk grup dancer terkemuka. Nuansa comic dan distro dihadirkan disini atas permintaan kedua mempelai.



Yang ini untuk seorang wanita cantik yang mau semuanya serba perfect saat menikahi suaminya di sebuah ourdoor party yang serba hijau. Serasi dengan kebaya, pernik-pe
rnik, dan filosofi hidupnya akan arti sebuah pernikahan.



Keduanya adalah karib saya, rekan sekerja satu profesi. Simplicity and Elegance. itulah nuansa sederhana yang saya hadirkan untuk sekedar tambahan detail di undan
gan dengan dominasi foto pre wedding mereka.



Pasangan ini sangat mencintai pekerjaan mereka sebagai banker. Semua dipercayakan kepada saya, saya membuat sedikit eksperimen dengan model lipatan yang unik. Dan warna yang kontras dengan dominasi putih pada foto pre wedding mereka.




Untuk pasangan pengacara dan dosen hukum ini, saya khusus meriset segala gerak-gerik mereka. Hasilnya sebuah undangan 2 versi yang handy, simple, ethnic, dan mencangkup semua publik yang mereka undang untuk one week celebration khas betawi.



Ini klien perdana saya, untuk ketulusan cinta mereka, saya terjun mulai dari proses foto hingga penempatan beberapa pernik-pernik handmade. Sebuah undangan dengan konsep minimalis dan mengutamakan kekuatan foto hitam putih yang bicara sejuta ekspresi.



Sobat karib. Menelepon saya jauh dari jambi, tempat kerja mereka. Untuk pasangan jaksa yang sangat mencintai dunia hukum ini, dan hanya punya sedikit waktu untuk persiapan pernikahan mereka di jakarta, segalanya saya kerahkan. Toh kita tidak dapat biarkan penjahat lepas karena mereka cuti mengurus desain undangan? :) sebuah undangan yang simple dan cukup unik karena berhasil menangkap karakter mereka.



Yang ini saudara dari rekan sekerja, mereka ingin undangan unik dengan tehnik lipatan yang terlihat mewah.



Pasangan diplomat muda. Hanya punya sedikit waktu sebelum mereka berdua dinas keluar negeri. Nuansa romantis menyeluruh adalah tema yang ditampilkan dalam desain ini. Detail pernik-pernik menambah kesejukan warna hijau muda yang dominan.

Bagaimana menurut anda? Ini kalau industri media sudah tidak mau sumbangsih saya lagi...

1 komentar:

Astari Yanuarti said...

hei bro, i'm really sure u've made ur way to succeed. just keep the faith yee...kalo perlu sekalian ambil PhD baru balik ke negeri kita tercinta ini.