Thursday, November 22, 2007

Me, My Ride and My Gadget

Apa perasaan elo pada barang-barang elo? Kalo gue jelas melankolis banget. Simak kisah si Kuda, Vony, Compie, Portie, Grobax, Big Porta, dan Little Portie.

Gue ini termasuk tipe yang setia berat sama satu tipe barang, bisa cinta mati, bahkan memperlakukan mereka bagaikan mahluk hidup. Apalagi dengan barang-barang otomotif dan elektronik pertama gue. Wuidih gue ampe apal mati sejarah mereka masing-masing.

Gue mulai dengan kendaraan gue. Gue menyebut diri gue sebagai penunggang (bukan pengendara) motor setia. Hari ini sudah tepat 10 tahun gue mengemudi motor. Sejak gue memperoleh SIM C di tahun 1997. Gue ini juga pengemudi motor yang sopan dan tahu aturan. Makanya sekarang rada sebel kalo di jalanan kini banyak pengendara motor newbie yang kayaknya makin nggak tahu aturan deh.

Si Kuda, demikian gue memanggil tunggangan besi beroda dua gue ini. Ia selalu datang dari merk yang begitu melekat di hati gue, Suzuki. Entah orang mau bilang apa, mau pake Honda kek, Yamaha kek atau apa. Gue cinta mati sama merk yang satu ini, serasa sudah sejiwa menyatu gitu deh khusus untuk keluaran motor mereka. Gue masih ingat si Kuda pertama kali adalah Suzuki 80 cc tahun 1986, lungsuran nyokap, yang cuma beberapa bulan gue pake buat ngelancarin naek motor, sebelum dijual karena sudah uzur.

Kemudian muncul si Kuda jilid 2, Suzuki Shogun 110 cc edisi perdana tahun 1996. dibeli setahun sebelum krismon melanda, hanya 4,5 juta saja dengan bonus sepeda federal. Gue masih inget belinya di showroom Suzuki Matraman. Wuah bikin sirik temen gue se-RT, karena selain the latest model dengan bentuk pipa knalpot yang gaya, beberapa bulan kemudian ketika krismon harganya meloncak menjadi 7-8 jutaan.

Ini si Kuda yang gue kenang sebagai motor penakluk wanita, boleh saja anda tidak percaya, namun banyak wanita yang emoh enggan membonceng motor, atau beberapa cewek di SMA gue yang menurut rumor nggak bakalan mau naek motor, namun ajaibnya bisa tuh nebeng motor gue. Termasuk salah satu wanita cantik kepunyaan pentolan gang sekolah yang ketika die nebeng selepas les, membuat gue deg-degan takut besoknya kalo ketahuan gue bakalan bisa kena bacok.

Dari SMA hingga tamat kuliah, si Kuda jilid 2 menemani petualangan gue dan menjadi saksi bisu beberapa wanita cantik yang hinggap di jok-nya. Dari yang 2 cewek sekaligus naek di di belakang, hingga membonceng cewek cantik basah kuyup keujanan dan baru sadar kalo orang tuanya tinggal di komplek kopassus.

Si Kuda jilid 2 ini shock breakernya sering rusak, mungkin karena sering ditebengin sama temen-temen gue secara tidak manusiawi 3 hingga 4 orang sekaligus. Maklum kita semua mahasiswa dulu suka menghemat ongkos ojek dan kadang gue suka kasihan ngeliat mereka jalan kaki larut malam. Si Kuda kerap kali juga dipakai untuk ngangkut-ngangkut barang untuk kegiatan kampus.

Si Kuda terus menemani petualangan gue hingga 2003. Namun pada periode kuliah, si Kuda kadang tergantikan sejenak. Salah satunya dengan Si Kuda 2.1, sebuah motor Cina merk Sanex model Harley Davidson wannabe, 150 CC tapi mesinnya V Twin palsu, wuih gaya deh dulu naik motor ini, apalagi bertepatan saat-saat gue lagi berambut gondrong.

Kala itu orang masih ragu-ragu beli, untungnye babe gue dapat doorprize motor beginian. Jadi gue juga termasuk pemakai motor cina model beginian edisi awal. Wuih banyak banget lirikan-lirikan sirik. Apalagi kalo gue yang sumpah niru banget gayanye si Lorenzo Lamas Renegade ini sukses membonceng satu dua cewek cantik.

Maklum kala itu yang pakai motor gede di kampus bisa diitung sebelah tangan, semuanya original, cuma gue yang imitasi. Namun usia si Kuda 2.1 hanya itungan bulan, dia harus direlakan dijual karena harganya akan makin jatuh dan perawatannya ribet.

Juga sempat hadir Honda Tiger 2001, namun gue pake barang 2 bulan, nggak gitu cocok sama jiwa gue meski kata orang asyik. I said No no no.

Gue kembali dengan si Kuda jilid 2, hingga 2003. Nah tahun 2003, gue yang masih setia banget sama si Kuda, ditawari oleh bokap gue akan Suzuki Shogun 2003, 110 cc desain yang lebih ergonomis dan rem depannya sudah pake cakram. Bokap menceramahi gue soal penyusutan nilai barang dan lain-lain. Ya sud secara dia yang beli gue manut aja disuruh ganti motor. bye-bye Kuda Jilid 2, welcome Kuda III. Atau gue panggil Si Kuda the Third.

Ini adalah periode kuda produktif, karena dia menemani hari-hari gue mencari kerja, mendatangi wawancara kerja, hingga hari-hari berangkat dan pulang ke kantor.

Pada tahun 2005, bokap membeli motor again, kali ini Shogun 125 CC, mesin lebih besar kenyamanan lebih nikmat, di bawah jok ada bagasi helm dan extra pengaman kunci kontak. Bokap kasihan dengan kerja gue yang tiap hari jalan naek motor, dia lalu ngajakin tukeran motor, jadilah gue memakai Si Kuda 4.0

Sayang sekali umur Si Kuda 4.0 yang nyaman dan tidak membuat lelah ini cuma setahun. Tahun 2006 gue terpaksa menjualnya untuk menambah ongkos uang saku awal guna berangkat sekolah ke Belanda.

Sekembalinya dari Belanda, jelas gue kembali ditemani oleh Si Kuda III (Kuda the Third) yang kini berganti gelar Si Kuda Third Generation atau Kuda 3G.

Handphone. Masih ingat kan kalau gue ini orang yang setia sama merk kalo sudah melekat? Dan kalau gue prefer suzuki saat orang-orang memilih Honda, maka gue memilih Sony Ericsson ketimbang Nokia.

Let’s meet Vony. Si Vony ini adalah panggilan sayang untuk handphone gue. Gue inget saat pertama gue memakai handphone adalah kuliah semester 3. Saat dimana gue kelayapan nggak pulang-pulang dan kadang menjelajah ke daerah dimana wartel dan telepon umum tidak pernah exist. Bokap gue menghibahkan HP bekasnya, Ericsson GH berapa lupa serinya, pokoknya ini handphone yang muncul di film Mission Impossible pertama, ingat adegan Tom Cruise bertransaksi dengan Max si penjual senjata di Kereta Cepat? Ada kan adegan dimana asisten max mencoba konek ke internet dengan modem infrared handphone ericsson itu.

Kalo nggak ingat, mungkin kamu ingat handphone Ericsson tanpa flip dengan garis besi solid di sisi luarnya? Yup betul. Betul-betul sebuah seri yang tangguh.

Vony berganti 3 kali semasa gue kuliah. Vony kedua adalah Ericsson SGH yang sudah tidak memakai lapisan garis besi diluarnya, kemudian Ericsson R 380 dengan flip, dan body yang tipis. Iklannya begitu keren dan romantis dulu di TV. Semuanya lungsuran dari bokap atau kakak gue.

Periode gue memasuki masa akhir kuliah dan bekerja, gue mulai memakai Vony yang memang dibeli baru. Vony ke 5 adalah Sony J70, sebuah HP yang hebat dan unik, konon pecinta fanatiknya masih ada sampai sekarang, bentuknya khas dan cathcy, nggak pasaran saat itu, ringtone nya termasuk pelopor karena sudah polyponic, phone booknya buanyak dan ada jog dial-nya yang legendaris. harganya murah, hanya 1,2 juta di tahun 2002. Vony ini hadiah dari Bokap gue.

Usia handphone memang cepat sekali, dan gue termasuk orang yang jarang sekali gonta ganti handphone kalau tidak ada alasan khusus, rata-rata penyebab gue ganti adalah dipaksa menerima lungsuran, yah gue terima wong gue nggak keluar uang. Dan jarang sekali namun pernah yaitu antenenya patah.

Tahun 2004, gue membeli handphone pertama kali. Membeli dengan uang sendiri. Sony Ericsson T 63. harganya 2 juta saat itu, dicicil 4 kali bayar via teman gue yang buka counter. Ini handphone berkamera pertama gue. Sudah pula ber-blue tooth.

Kenapa gue suka Sony Ericsson? Mungkin karena kalau Nokia itu teknologi yang mengerti anda, nah gue menganggap Sony Ericsson itu untuk anda yang sudah mengerti teknologi. Hehehehe. Lagian gue bukan orang yang suka ganti-ganti casing warna-warni. Asal kenikmatan ber-sms dan phonebook banyak gue sudah bahagia.

Mungkin karena gue cinta sekali dengan Sony Ericsson, tahun 2005, gue sampai dapat kesempatan liputan ke Singapura diundang oleh Ericsson. Gue menyaksikan kehebatan teknologi terbaru dari Ericsson dan Sony Ericsson. Ini dua company yang berbeda. Macam sister company lah. Disana gue melihat kehebatan teknologi HSDPA. Namun masih jauh nampaknya handphone HSDPA ada di kantong gue.

Nah, si Vony number 6 ini hinggap di saku hingga ke Belanda, dan disana mulai rewel, keypad nya rusak saat gue mendarat. Nah disaat yang sama, teman gue mengusulkan kita ber abodemen setahun di Belanda dengan modal paspor saja. Menghitung biaya yang memang jatuhnya lebih murah ketimbang beli pulsa isi ulang. Kami memutuskan memakai abodemen setahun, karena tambahannya adalah HP gratis. Silahkan pilih, teknologi terbaru semua lagi.

Dan sekali lagi saat kawan-kawan semua berbondong-bondong memilih Dopod smartphone yang bisa jadi PDA. Gue dengan gemetar langsung jatuh cinta tetap pada Sony Ericsson.

My 7th generation Vony is Sony Ericsson K800i cybershot. Dengan 3.2 megapixel camera, memory card M2. inilah HP dengan teknologi HSDPA pertama gue. Vony seri 7 ini masih menemani gue hingga sekarang, gue akan mencabutnya dari pinggang jika menerima telepon dari anda.

My Compie. Si Compie adalah panggilan sayang untuk komputer-komputer gue. Gue ingat pertama kali gue berkenalan dengan teknologi komputer, adalah si Compie dengan monitor CGA, tanpa harddisk, dengan floppy disk double 5,4 inch tipis. Digunakan untuk gue latihan DOS, WS 4 hingga WS 7, dan all time fave game, Digger.

Kalo dulu itu saat SD, saat SMA gue menerima Compie kedua gue. Masih inget banget gue, Pentium 75 Mhz, monitor VGA 14 inch, hard disk 850 MB, memori 16 MB. Sudah berdisket 3,5 namun belum dengan CD ROM. My first encounter to windows. Windows 3.1.1. Harganya dulu gue nyaris teriak sama si tukang komputer. Sebuah penipuan besar-besaran untuk ukuran tahun 1996. Namun lumayanlah komputer ini menemani karir penulisan gue besar-besaran, beberapa kongsi bisnis pengetikan dan pembasmian virus di sekolah bareng temen-temen, dan mempopulerkan nama gue dan beberapa temen juga sebagai pengedar file JPEG terlarang di sekolah, maklum saja itu usia krusial puber. Dan disket lebih aman daripada kepingan Laser Disk yang kadang nggak muat di tas backpack.

Saat gue kuliah di UI depok, gue bertemu kembali dengan sohib gue yang komputer freak. Ijulhamdi. Anak pecinta komputer yang kuliah di Gunadarma seberang kampus gue. Disini wawasan perkomputeran gue terbuka dengan nongkrong bareng anak-anak ini. Yang menjadikan komputer dan internet sebagai pacar pertama. Well gue nggak seajaib itu, gue masih doyan wanita konvensional ketimbang seonggok mesin.

Namun Ijul lah yang menemani gue saat gue punya uang membobol celengan dan pergi berdua merakit komputer ke Mangga Dua. Ke toko legendaris paling murah seantero Dusit Mangga Dua, HJ komputer. Anak gila komputer se Jakarta dijamin tau eksistensi Toko ini dengan si Engkoh John nya.

Inilah spek PC perdana idaman gue. Monitor 17 inch, Pentium III 700 Mhz, 20 GB hard disk, Memori SD RAM 128 MB, pake VGA card 32, motherboard Abit VH6, termasuk modem 56 Kbps. sudah pake CD ROM, dan OS windows 98 SE. Wuah the best spec deh pada tahun 2000.

Komputer ini bertahan hingga meledak 6 bulan lalu. Terakhir sempat gue upgrade berkali-kali, spec terakhirnya adalah memory 512 MB, double hard disk 40 GB dan 80 GB, serta DVD ROM/ CD RW. Kompie yang ini meninggal karena selama gue setahun tidak di rumah, orang rumah gue suka mematikannya model mematikan radio, cabut stop kontak. Ampun deh.

Bertahan 6 tahun, inilah si Compie paling berpengaruh dalam hidup dan karir gue. Semua diketik dan diolah disana. Karir gue sebagai graphic designer juga ditunjang di si Compie ini. Dari Photoshop 5.5 hingga Photoshop CS. Corel Draw 7.0 ke 9.0, dll.

Si Compie punya saudara. Yaitu Portie. Portie ini laptop gue. Gue ini dari dulu ngidam banget pengen punya laptop yang gaya. Pokoknya yang keren, kecil, dan tipis, mirip seperti yang dipake di film Antitrust. Wuih gaya betul. Nggak perlu itu laptop layar besar plus spec bagus tapi berat banget. 3 kiloan ngapain juga? Yang namanya portable yah kudu musti memudahkan mobile, simple nggak ribet. Dan harus juga membuat orang melirik saat kita ngetik di cafe atau di kursi bandara. Gaya bo. Kalo style nya bagus kan orang juga nggak nanya spec dalemnya apa.

Setelah sekian lama cuma bisa nemenin temen, rata-rata cewek, yang minta dianterin keliling Ratu Plaza, Glodok, Mangga Dua, buat milih dan beli laptop untuk mereka. Gue akhirnya punya dana beli laptop saat sudah bekerja, yaitu tahun 2003.

Saat itu juga kebutuhan mobile dan ketemu orang diluar sudah makin tinggi, saatnya membeli laptop. Gue masih ingat gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melirik benda ini di etalase TokoJualbeli.com di Dusit Mangga Dua lantai 2. inilah teknologi yang gue rasa menjadi masa depan. Tablet PC Acer C 100. Touch Screen pake stylus. Berat hanya 1 KG, ringan dan kecil mungil. Cocok untuk mengetik di meja-meja cafe yang saat itu masih tidak terlalu lebar. Lebih keren lagi saat gue dikasih stiker apple oleh sohib gue Reza, untuk ditempel di belakang monitornya.

Ini laptop paling gaya, sering dipinjem temen gue untuk presentasi meyakinkan klien. Layarnya bisa diputar 360 derajat, dan dilipat jadi layaknya kertas gambar, lalu dengan stylusnya jika malas mengetik bisa langsung corat coret dilayarnya.

Gue membelinya seharga 9 juta, aslinya saat itu harga pasaran US$ 2.000, namun gue dapat harga bagus karena barang dari singapura. Well agak melebihi budget namun gue berhasil menambah uang untuk membelinya dari sisa penjualan motor cina.

Spec yang indah untuk tahun 2003: touch screen LCD 10 inch, pentium III M 800 Mhz, hard disk 30 GB, memory DDR 256, 2 buah port USB, wi-fi, LAN, Modem, fire-wire, infra red, batere tahan 1.5 jam. Sudah pakai windows XP tablet PC edition. Gue upgrade setahun kemudian dengan sebuah batere lagi tahan 2,5 jam, dan CD RW/DVD external USB merk IBM.

Kata rekan gue Iskandar si pengusaha Donut, kalau kita membeli barang seperti laptop jangan sekedar untuk gaya atau hiburan, tapi juga untuk menunjang kinerja kita, minimal kita harus menghasilkan sekitar 3 hingga 4 kali lipat dari uang yang kita keluarkan untuk membeli barang itu. Nah dengan berpegang teguh pada kalimat bijak si Iskandar gendut, si Portie ini makin menunjang kinerja gue, terutama dalam meng-goal-kan banyak proyek. Portie ini pula yang menemani gue mengetik aplikasi beasiswa, hingga ikut gue ke Belanda, dan thesis mahakarya pun lahir dari si portie ini. Jadi yah, udah balik modal banget-banget.

Gue dulu yakin sekali teknologi tablet PC akan menjadi masa depan menggantikan laptop konvensional, hehehe ternyata gue salah, laptop masih tak tergantikan. Konon tablet PC kini hanya digunakan sales asuransi dan petugas medik diluar negeri.

Sebelum ke adik si Compie dan Portie yaitu si Little Portie. Kita selingi dengan kisah si Grobax. Kendaraan roda empat yang sering menemani gue.

Si Grobax adalah Toyota Kijang Rover tahun 1995 dengan warna hijau metalik mentereng. Gue yakin mobil ijo ini satu-satunya di Jakarta hehehe. Grobax pertama gue adalah Karimun first edition tahun 2002, ini mobil perdana gue belajar menyetir, kemudian petualangan malang melintang yah dengan si Grobax ijo. Dulu jaman kuliah, grobax pernah kuat mengangkut 13-14 mahasiswa hehehehe. Kadang si Grobax ijo diselingi dengan Honda Jazz ditahun 2005. Namun paling sering semua perjalanan bersejarah termasuk kencan-kencan gue menggunakan si Grobax ijo. Karimun dan Jazz sudah tiada, tinggal si Grobax ijo yang masih ada di Garasi, karena ini adalah kendaraan favorit nyokap gue.

Ok sekarang kita ke si little portie. Sebutan untuk portable drive gue. No, no, no not yet USB, dulu sebelum ada kita kenal teknologi itu. Gue terkesima dengan hard disk rack, yang ada pegangan mirip pegangan koper merk Lacie. Dulu itu pas bisnis cetakan, sempet puyeng dengan high resolution file yang gede-gede, dimana gue jadi gape banget nenteng CPU (maklum hard disk belum pake teknologi anti shock jaman itu) lalu jadi jago nyabut-nyabut harddisk, terus nyolok-nyolokin terus juga mensettingnya nya. Dulu tuh jaman kuliah sering banget di backpack ada buntelan handuk, dimana berfungsi sebagai pelindung extra untuk menahan efek benturan pada harddisk.

Sempat agak lega saat teknologi burning CD muncul, namun gue rasa masih belum efektif. Kadang gagal burning atau scratch yang bikin bete. Dan kadang musti bawa banyak CD atau back up double CD, wah ribet.

Pada tahun 2003, saat gue bekerja sebagai tenaga kretif di industri periklanan, gue melihat yang namanya USB flash disk, dulu bos bule gue nyebutnya thumb drive, gile canggih bener. Meski baru 32 dan 64 MB. Masih mahal harganya kala itu. Dan belum populer.

Nah, inilah cerita rada aneh dimulai. Gue yang saat itu bernafsu sekali ingin punya teknologi portable masa depan itu (udah jenuh nenteng harddisk atau dikit-dikit nge-burn CD) akhirnya mulai ngumpulin duit dan pas bener belinya pas sudah kerja di kantor yang sekarang. Pada akhir 2003 setelah berkeliling ke penjuru, gue berhasil membeli the latest teknologi, USB flash disk perdana gue 128 MB, merk Apacer, belinya di Palingmurah.com di Jalan Surabaya. Rp. 200.000,- second hand ex singapura. Penawaran paling bagus saat itu karena harganya masih diatas 500 ribuan kala itu.

Namun setahun kemudian booming USB flashdisk, dan harganya kian murah. Nah tahun 2005, saat gue liputan di Singapura, gue memperoleh little portie kedua, gratis. USB flash disk 256 MB, merk Nexus namun disepuh tulisan Ericsson. Ah sebuah hasil dari kesetiaan pada merk.

Little Portie punya saudara muda, Big Porta. Mereka adalah portable hard drive tipis kecil. Yang gue gunakan untuk mem-back up data. Gue memang rada parno kalau sampai kehilangan data. Big Porta I, adalah hard disk portable kecil 40 GB merk Hitachi yang gue beli di apartemen Taman Anggrek, di toko Jakarta Notebook. Sedangkan Big Porta II adalah hard disk portable kecil 120 GB merk Western Digital yang gue beli di Belanda.

Si little portie 128 hilang pada tahun 2006, kakak gue yang cewek lalai meletakkannya. Sedangkan little portie 256, sukses menemani gue hingga ke negeri Belanda. 2 bulan lalu ia pecah berkeping-keping. Bodynya pecah dan isinya penyok, memang sih sejak di belanda ia sudah gue tambel-tambel pake selotip. Memang sudah uzur dan tetap setia menemani gue.

Saat gue sedang pusing, dan sedang bersiap membeli pengganti little portie, dimana yang gue lirik adalah kingston 1 GB, eh tak disangka rejeki datang. Gue memperoleh USB flash disk 512 MB merk V-Gen dari Pak Djandjan yang baek hati, beliau produser E-Lifestyle di Metro TV. Beliau tahu gue lagi nggak punya flash disk dan dia memberikan satu dari beberapa flash disk yang baru saja diperolehnya. Dan itu menjadi my new little portie.


things that I want to buy today if I have lot of money
  • Toyota Harrier or Suzuki Baleno 1996
  • any PC with Core 2 duo, DDR2 4 GB with Double LCD 19 inch wide
  • laptop Asus or Macbook Pro
  • Suzuki Shogun or Bajaj 150 CC
  • another new edition of Sony Ericsson
  • Blackberry

0 komentar: